Selasa, 21 September 2010

Nyai Sumur BANDUNG

NYAI SUMUR BANDUNG

Nagara Kuta Waringin, negara subur dan makmur. Ratunya bernama Munding Keling Puspa Mantri, Menak Pakuan, Menak Terah Pajajaran, Satria Mangkuwasa. Panakawannya: Kuda Aing lengser. Munding waringin, Kuda waringin dan kalang Sutra Tandur wayang (kakak ipar ratu). Pawarangny ada 42 orang tetapi yang diceritakan hanya dua, yaitu Gurit Haji Wira Mantri dan Nimbang Waringin.
Pada suatu ketika di Kuta waringin diadakan pesta meriah sekali. Bunyi tetabuhan terdengar oleh Nyai Sumur Bandung di negara Bitung wulung. Demi didengarnya suara itu, ia membangunkan kakaknya, rangga Wayang yang sedang bertapa. Lalu bertanya tentang suara itu. Setelah Sumur Bandung melihat telpak tangan Rangga wayang tahulah bahwa di negara Kuta Waringin sedang diadakan pesta besar-besaran.
Setelah itu Sumur Bandung ditanya oleh rangga Wayang, mau tidaknya bersuamikan Ratu Kuta Waringin. Mula-mula Sumur Bandung menolaknya, tetapi karena desakan Rangga wayang, ia mau juga mengikuti kehendak kakaknya, tetapi dengan syarat, jika nanti pergi ke negara Kuta Tandingan, harus naik banteng lilin yang berwarna jingga. Kalintingnya untaian bintang, tanduknya salaka domas, ekornya banyu emas.
Rangga Wayang tidak dapat memenuhi permintaan Sumur Bandung, maka ditemuinya Langen Sari Jaya Mantri Mas Wira Jayamanggala, kakaknya Sumur Bandung. Langen Sari sanggup menangkap banteng lilin asal diantar oleh Sumur Bandung. Ia tidak tahu rupa banteng tersebut.
Pada waktu yang sudah ditentukan, Sumur bandung pergi bersama-sama denga rangga wayang (dengan naik banteng), ke negara Kuta Waringin. Sebelum berangkat semua harta kekayaannya dimasukkan oleh Sumut bandung ke dalam Cupu Azimat, lalu dititipkan kepada pembantunya, Nyai Ogem.
Sesampainya di negara kuta waringin, Rangga Wayang menemui Kalang Sutra. Tetapi keinginanya itu tidak begitu saja diterima oleh Kalang Sutra, sebab keputusan terakhir ada ditangan ratu.
Retu dapat menerima maksud dan keinginan Rangga Wayang, tetapi Nimbang Waringin menolaknya. Sikapnya, ucapannya sangat menyakitkan gati para tamu. Ia marah-marah, sambil berdahak-dahak di muka tamunya.
Tak lama sesudah itu Rangga wayang menjemput Sumur Bandung di batas kota. Sumur bandung mengubah dirinya menjadi nenek-nenk, kemudian berangkatlah mereka menemui Nimbang Waringin. Senasib dengan Rangga wayang, ia pun diludahinya. Pangkuannya penuh ludah Nimbang waringin.
Karena Sumur Bandung merasa dihina, lagi pula dicemburukan ratu, sekalian dimintanya ratu Munding Keling, dari tangan Nimbang waringin. Nimbang Waringin merasa terhina pula. Pertengkaran terjadi, kemudian diteruskan dengan perkelahian antara kedua wanita itu. Nimbang Waringin tak kuat melawan Sumur Bandung. Ia lari dan minta bantuan kepada madunya (istri ratu yang lain yang jumlahnya ada 41)
Di alun-alun diadakan pertandingan mengadu kecantikan antara Sumur bandung dan Nimbang Waringin beserta semua madunya. Nimbang Waringin kalah dalam pertandingan itu. Selanjutnya diadakan pertandingan berpanjang-panjang rambur, ketangkasan bermain keris, dan lain-lain. Kemenangan selalu ada di pihak Sumur Bandung. Ketika diadakan “adu tinja” , siapa yang tinjanya harum, itulah yang menang, Sumur bandung minta Boreh batara Guru kepada Sunan Ibu. Tinja Nimbang Waringin ternyata lebih busuk daripada tinja Sumur Bandung. Pertandingan terakhir mengadu kerbau, dan yang menang, juga Sumur bandung.
Karena terus-terusan kalah, diterkamnya Sumur Bandung, namun Nimbang waringin kewalahan dan minta bantuan kepada semua madunya. Karena kekuatannya tidak seimbang, Sumur bandung minta pula bantruan kepada Langen Sari. Semua musuh Sumur bandung dapat dihalaunya.
Melihat Langes sari turut campur, kalang Sutra dan Nimbang Waringin tidak dapat tinggal diam, lalu ia pun turut membantu Nimbang Waringin
Diceritakan bahwa perang antara Sumur bandung dan Nimbang Waringinsudah cukup lama, tetapi satu pun tidak ada yang kalah. Masing-masing mencoba kesaktiannya. Sumur Bandung berpendapat bahwa perang tidak akan selesai-selesai, oleh karena itu, ia akan minta bantuan Sunan Ibu di sorgaloka untuk mengalahkannya. Sumur Bandung segera pergi ke Surgaloka, diikuti oleh Nimbang waringin. Nimbang waringin dihisap kekuatannya oleh Sumur Bandung sehingga kecapaian kalau harus mengikuti terus Sumur Bandung ke sorgaloka. Untuk mengalahkannya, sama sekali ia tak sanggup. Nimbang waringin takluk, dan dengan rela menyerahkan suaminya kepada Sumur Bandung
Sesudah itu oleh Sunan Ibu, Sumur Bandung diberi bahan anak sebesar kacang hijau. Bahan anak itu ditelan oleh Sumur Bandung,
Sepulangnya dari surgaloka, Sumur bBndung dan Nimbang Waringin bertemu dengan saudara-saudaranya yang sedang berkelahi di lautan. Dengan adanya pertemuan itu menyebabkan yang berkelahi berhenti, selanjutnya Langen Sari, Kalang Sutra, juga Sumur Bandung kembali ke Kuta Waringin seterusnya diadakan pesta perkawinan antara Sumur Bandung dengan Ratu Munding Keling.
Dikabarkan bahwa ada sebuah negara yang bernama Rucuk pajajaran. Rajanya bernama Raden Jaga Ripuh, saudara permuannya bernama sekar pakuan.
Demi mendengar Sumur Bandung sudah menikah dengan Ratu Kuta waringin, Jaga Ripuh amatlah susah. Ia pernah menyerahkan sejumlah uang lamaran kepada Rangga Wayang. Timbul niatnya untuk mencuri Sumur Bandung. Tetapi segera ketahuan oleh Rangga Wayang dan Sumur Bandung sendiri. Rangga Wayang menjadikan dirinya sebagai Sumur Bandung dan segera mendekati Jaga Ripuh. Setelah dilihat Jaga Ripuh bahwa Sumur Bandung ada di kebun bunga, ditangkapnya Sumur Bandung palsu itu. Dengan perasaan gembira ia membawa Sumur Bandung palsu ke negaranya. Tak lama kemudian, ia sudah berada di negaranya (Rucuk Pakuan).
Seperginya Jaga Ripuh setelah menyerahkan Sumur Bandung kepada Sekar Pakuan, Rangga Wayang menjadikan dirinya kembali kepada ujudnya semula. Melihat kejadian itu Sekar Pakuan minta agar tidak dianggap ikut dalam persekongkolan itu. Permintaan Sekar Pakuan dapat diterima oleh Rangga Wayang, kemudian Rangga Wayang bersma-sama dengan Sekar Pakuan kembali ke Kuta Waringin. Sekar Pakuan diserahkan oleh Rangga Wayang kepada ratu untuk dijadikan selir.
Tak lama sesuadh itu, Rangga Wayang menyerahkan lagi Jaga Ripuh kepada ratu, setelah berhasil dikalahkannya, seterusnya negara Kuta Waringin menjadi negara yang aman, sentausa, subur makmur


Sumber ceritera
e.d C.M. Pleyte, 1910


(B)


Raja Agung Purba Mantri Pangeran Purba Kusuma pergi ke negara Daha dengan maksud mencari calon istri, tetapi tak ditemukannya. Kemudian ia pergi ke Kuta Waringin. Di sini ia menemukan tiga orang calon, yakni: Nyai Tanjung Waringin, Nyai Nimbang Waringin dan Nyai Jurit Aji lanjang Sari. Kemudian raja menikah dengan ketiga orang putri itu. Patihnya (kakak prameswari) namanya Raden Gajah Waringin. Panakawannya dua orang, yaitu: Candra Wali dan Candra Terebang.
Pada suatu waktu, raja menyuruh Gajah Waringin menaklukan negara Kuta Siluman, tetapi ia tidak sanggup. Ada yang dapat mengalahkan negara Kuta Siluman yaitu Raden Langen Sari, kakak Nyai Sumur Bandung, satria yang berkelana, pertapa sakti yang dapat berubah menjadi kakek-kakek.
Langen Sari mengubah dirinya menjadi satria kembali, lalu pergi ke negara Kuta Siluman. Dengan perantaraan Nyi Mas Maya Siluman, adik ratu, Langen Sari bisa menemui Rangga Siluman, raja Kuta Siluman. Diajaknya raja rangga Siluman takluk kepada raja Agung, tetapi ditolaknya. Langen Sari terus mengajak, sedangkan Rangga siluman tetap menolaknya. Akibatnya terjadilah peperangan yang dahsyat sekali. Mereka saling mendorong dan saling mendesak, hingga sampailah di negara Pucuk Beusi. Rajanya bernama Rangga Cempaka, adiknya bernama Nyi Mas Campaka Larang Mantri Kembang.
Setelah dilihatnya ada yang mengadu kekuatan, raja melibatkan dirinya, ia memihak kepada Rangga Siluman. Yang berperang sampai di negara Daha. Rajanya Pati Jalak Mangprang dan adiknya Nyi Mas Mangprang Wayang. Setelah diberitahukan oleh adiknya bahwa ada yang sedang berperang, maka pergilah raja ke tempat peperangan, yang berperang tampak sedang tergolek kepayahan. Ketiga orang yang mengadu kekuatan itu dibawanya ke paseban, tetapi ternyata Rangga Campaka dan Rangga Siluman sudah meninggal. Dengan ajimatnya, Mangprang Wayang menghidupkan kedua orang itu. Seterusnya kedua orang itu ingin membaktikan dirinya kepada raja Agung Purba Mantri. Begitu pula halnya Cempaka Larang dan maya Siluman.
Langensari berpamitan kepada raja untuk meninggalkan istana, karena ia telah lama tidak bersua dengan Sumur Bandung, yang dituju adalah negara Bitung Wulung.
Sesampainya di Bitung Wulung, Langen sari memanggil-manggil adiknya, tetapi Sumur Bandung tidak mau menyahut. Sumur Bandung mengakui bahwa ia mempunyai kakak yang bernama Langen Sari, tetapi sedang bertapa. Untuk membuktikan pengakuannya itu Langen Sari harus dapat mengalahkan tabuhan kembar. Berkat kesaktiannya, tabuhan itu dapat dibunuhnya. Sumur Bandung minta agar tabuhan tersebut dihidupkan kembali. Tabuhan dapat dihidupkan kembali, tetapi Sumur Bandung, belum juga puas hatinya. Kemudian Sumur bandung menyuruh Langen sari berenang di dalam kendi. Dengan senangnya Langen Sari berenang di dalam kendi. Akhirnya Sumur Bandung ingin melihat tanda yang ada di kepala Langen Sari, jelas sekali Sumur Bandung melihat tanda luka di kepala Langensari, barulah Sumur Bandung yakin bahwa itu adalah kakaknya, lalu ia minta maaf atas kehilapan yang diperbuatnya.
Selanjutnya Langensari mengajak Sumur Bandung pergi ke Kuta Waringin. Sebelum berangkat, Sumur Bandung menciutkan negara Bitung Wulung, lalu dimasukannya ke dalam penjara, seterusnya kedua bersaudara itu terbang.
Dari udara dilihatnya Raden Gangsa Wayang dan adiknya Nyi Salasa Wayang sedang berlayar. Langensari mencoba memberhentikan kapal itu. Terasa oleh Gangsa Wayang kapal oleng. Disuruhnya Rangga Wayang yang berada dalam kapal untuk memeriksanya. Rangga Wayang tidak kembali ke kapa, tetapi bersembunyi di dalam hutan (gua), karena yang mengganggu kapal itu adalah adiknya sendiri, Langensari.
Karena Rangga Wayang tidak juga muncul, Gangsa Wayang dan Salasa wayang turun ke laut. Diketahuinya bahwa yang berbuat untuk mengganggu lajunya kapal adalah Langensari, Langensari ditanya oleh Gangsa Wayang tentang asal dan maksudnya. Dijawabnya bahwa ia berasal dari Kampung Bitung Wulung dari negara Kuta Waringin. Dikatakan oleh Langensari, bahwa ia disuruh raja melihat kapal itu. Timbul percakapan yang dilanjutkan dengan peperangan, peperangan itu lama sekali, Gangsa Wayang minta kepada adiknya supaya peperangan dihentikan. Ubun-ubun Langensari dihisap oleh Salasa Wayang, hingga Langensari lemah lunglai tak berdaya. Sukmanya masuk ke seekor burung koleangkak, sambil terbang burung itu bersuara “Mun teang, mun teang ! (tengonglah segera). Hal itu diketahui oleh Sumur Bandung, oleh karena itu ia segera masuk ke dasar laut.
Sesudah Langensari dihidupkan kembali oleh Sumur Bandung, peperangan antara Langen Sari dengan Gangsa Wayang diteruskan. Salasa Wayang tahu bahwa Langen Sari dihidupkan oleh Sumur Bandung. Sumur Bandung dikejarnya, Sumur Bandung bersembunyi di dalam rumpun kaso. Salasa Wayang minta kepada Ibu Dewata agar ia diberi senjata. Permintaannya itu dikabulkan oleh Ibu Dewata, hanya saja semua senjata pemberian itu tidak mempan. Bahkan semuanya menghilang dan menyusuk ke dalam diri Sumur Bandung.
Setelah semua senjata yang dimilikinya habis, Salasa Wayang ditendang oleh Sumur Bandung, hingga sampai di mega malang. Sumur Bandung menyusulnya, Salasa Wayang ditangkapnya, lalu dimasukkan ke dalam penjara besi. Penjara besi ditepuk oleh Sumur Bandung, jatuh di hulu dayeuh negara Kuta Waringin.
Setelah itu Sumur Bandung menemui saudaranya yang masih berperang di dasar lautan, Sumur Bandung memperingatkan Langensari agar menggunakan kesaktiannya, Langensari sadar akan kehilapannya. Gangsa Wayang dilemparkannya, sehingga ia terjerembab, dan terus lari ke dalam hutan.
Sehabis berperang, Langensari memberitahukan Sumur Bandung bahwa ia akan pergi mencari Rangga wayang. Tak lama kemudian Rangga Wayang berhasil ditemukannya.
Gangga Wayang yang bersembunyi di dalam hutan bertemu dengan Gajah Hambalang dan Badak Hambalang. Disuruhnya agar jala yang dibawa mereka ditebarkan pada kapal yang ditumpangi Langen Sari dan Sumur Bandung. Dengan perjanjian, kalau berhasil, kapalnya untuk Gangga wayang, sedangkan isinya termasuk Sumur Bandung yang cantik itu untuk Gajah Hambalang. Kapal berhasil dijalanya, tetapi jala itu oleh Langen Sari dijadikan dua bagian. Gangsa Wayang menyerah kepada Langen Sari. Gajah Hambalang dan Badak Hambalang lari ke hutan.
Atas usul Langen Sari kapal dilabuhkan di lubuk Cinanggiri, nanti kalau Sumur Bandung berputera dari raja Kuta Waringin, kapal itu hendaknya dipakai berlayar bersuka ria.
Setelah itu mereka kembali ke Kuta Waringin, tetapi sebelumnya singgah dulu di negara daha. Mereka diterima oleh Nyai Mangprang Wayang dan Patih Jalak Mangprang.
Dalam suatu pertemuan, Langen Sari bermaksud menyerahkan orang yang akan berbakti di negara Kuta Waringin. Menurut perhitungan ada sembilan orang, termasuk seorang kepalanya. Tetapi ternyata hanya ada delapan orang, yaitu: Rangga Siluman, Rangga Cempaka, Jalak Mangprang, Gajah Hambalang, Badak Hambalang, Gangsa wayang, Rangga wayang fan Langen Sari sebagai kepala.
Diputuskan dalam pertemuan itu bahwa Rangga Wayang yang harus mencari orang untuk melengkapi junlahnya. Atas petunjuk Pati Jalak Rangrang, orang yang gagah serta adiknya yang cantik adalah Raden Sutra Panandur Wayang dan Nyi Mas Sutra Kembang Padma Larang. Mereka ada di negara Paku Rucukan Beusi.
Setelah siap segalanya, pergilah Rangga wayang ke negara Paku Rucukan beusi, sesampainya di negara itu Rangga Wayang menyamar sebagai kakek-kakek yang bernama Aki Moskol. Oleh raja ia dijadikan penyabit rumput. Tetapi amatlah mengagetkan seisi keraton, karena segalanya menjadi berantakan karena apa yang dikerjakannya selalu bertentangan dengan apa-apa yang biasa dilakukan orang. Menyabit rumput, bukan rumput yang disabitnya melainkan alat vital kuda. Disuruh menyiangi tumbuh-tumbuhan, semua tanaman yang ada dibabatnya.
Diceritakan bahwa Rangga wayang dapat memboyong Padma Larang. Seisi keraton heboh karena Padma Larang tidak ada.
Padma Larang diserahkan Rangga Wayang kepada Sumur Bandung untuk dijadikan teman bermain.
Sutra Panandur berkeyakinan bahwa Aki Mongkol-lah yang punya ulah. Segera ia mencarinya ke negara Daha. Empat ponggawa Daha menghadapinya. Terjadilah peperangan hebat sekali. Keempat ponggawa itu dapat dikalahkannya. Mereka melarikan diri. Langen Sari ganti menghadapi Sutra Panandur, Sutra Panandur kalah, dan ingin berbakti kepada Langen sari.
Selanjutnya karena ponggawa sudah lengkap, Langen Sari mengajak mereka pergi ke negara Kuta Waringin. Sesampainya di Kuta Waringin diadakanlah pesta.




C
Prabu Kidang Pananjung berputra tiga orang, yakni Patih Kuda Rangga Wayang, Patih Kuda Langon Sari dan Nyi Mas Sumur Bandung
Prabu Kidang Pananjung bermaksud menyerahkan negara Bitung Wulung kepada Sumur Bandung. Kepada putranya yang sulung, Rangga Wayang akan diserahi ajimat pisau kencana, putranya yang kedua diserahi keris parung ganja wulung, sedangkan Nyi Sumur Bandung menerima negara Bitung Wulung dengan diberikannya pula ajimat harimau putih kembar, kanjut kundang dan tabuhan dua ekor.
Prabu Kidang Pananjung berpesan kepada Sumur bandung sebelum Rangga Wayang dan Langon Sari mempunyai negara sendiri dan berkeluarga, azimat itu tidak akan diberikan.
Setelah menyerahkan negara dan ajimat-ajimat tersebut, Prabu Kidang Pananjung “tilem” (menghilang). Sepeninggal ayahnya Rangga Wayang dan Langon Sari bermaksud mengembara ke setiap negara. Sebelum berangkat mereka minta kepada Sumur Bandung agar menyerahkan azimat pemberian ayahnya itu, tetapi Sumur Bandung tak mau memberikannya, ia berpegang teguh kepada pesan ayahnya. Terjadilah pertengkaran mulut yang dilanjutkan dengan perkelahian. Dalam perkelahian itu keris yang dilemparkan Sumur Bandung mengenai pinggang Rangga Wayang. Rangga Wayang terlempar ke puncak Gunung Jingga.
Melihat nasib kakaknya demikian, Langon Sari menjadi marah. Ia berniat menerkamSumur Bandung, tetapi duhung mengenai kepalanya, Langon Sari terlempar pula dan jatuh di alun-alun.
Selanjutnya Rangga Wayang insaf akan kesalahannya, dan minta maaf kepada Sumur Bandung, setelah itu ia bertapa di puncak gunung Sakobar. Sebaliknya Langon sari, ia menaruh dendam kepada Sumur Bandung. Ia tidak lagi mengakui Sumur Bandung sebagai adiknya.
Dari gunung Sakobar, rangga wayang pindah bertapa ke sudut matahari. Sesudah tujuh hari bertapa, ia bertemu dengan Sunan Ibu yang datang dari surga. Di suruhnya rangga Wayang menuju negara Karang Ganjaran. Rajanya bernama Putri Balung Tunggal nyi Mas Saramah wayang. Putri itu bersaudarakan Patih Gangsa Wayang. Sang putri memiliki tiga buah azimat , yakni golok sekung, keris kalamunyang dan panah durangga sakti. Sesudah menerima azimat ruas undur-undur, taji malela dari Sunan ibu, Rangga wayang terbang ke negara Karang Ganjoran, negara di tengah lautan, dengan maksud melamar saranah wayang. Lamaran diterimanya. Dengan penuh kebahagiaan rangga Wayang akhirnya menikah dengan Sarasah wayang.
Setelah ditinggalkan oleh kedua saudaranya, Nyi Sumur Bandung merasa tersiksa. Oleh karena itu sesudah menyerahkan azimat duhung parung ganja wulung kepada emban, Sumur Bandung mengubah negaranya menjadi gumpalan tanah sebesar gula jawa. Kemudian dimasukannya ke dalam kanjut kundang. Setelah itu dibawanya terbang dan dijatuhkannya isi kanjut kundang itu, terjemalah sebuah negara yang diberinya nama Bitung Wulung Emas Beureum Ujung Pulo Nagara babakan Nangsi.
Rangga Wayang dan Langon Sari tak bisa hilang dari ingatan Sumur Bandung. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan kedua saudaranya itu. Selanjutnya ia bertapa di bawah pohon katomas.
Dalam petualangan Langon Sari didatangi ayahnya yang telah tiada. Langon Sari dinasehatinya agar sadar akan kesalahannya, dan mau mengakui serta mengasihi Sumur Bandung, disuruhnya kembali ke negara Bitung Wulung, tetapi Langon Sari tetap menolaknya. Ia ingin terus bertualang serta mencari kakaknya, Rangga Wayang.
Karena Langon Sari tetap saja pada pendiriannya, ayahnya menyuruh pergi ke negara Kuta Waringin. Raja negara itu bernama Sungging Purba Mantri Ratna Demang Rangga Lawe Ratu Kasirigan Wangi, yang berasal dari Pajajaran, putra Prabu Siliwangi.
Raja ini mempunyai tiga permaisuri, yakni : Nimbang Waringin, Padma Larang Keling Kancana dan Jurit Haji Mila mantri. Dikatakannya bahwa keris parung ganja wulung yang jantan ada di negara itu. Keris yang ada pada Sumur Bandung adalah yang betinanya. Untuk memperoleh keris itu haruslah menyamar sebagai seorang kakek yang menjijikan dengan julukan Aki Jobin Jobabintara.
Pada waktu itu Ratu Sungging sedang mendapat kesusahan. Ia merasa tersaingi oleh Patih Rangga Siluman dari negara Kuta Waringin dalam hal kegagahan dan kekayaannya. Ia ingin mengalahkannya, tetapi merasa tidak mampu. Maka meminta bantuan kepada Patih gajah Waringin, kakak Nimbang waringin. Permintaannya tak dikabulkan, karena Gajah Waringin tak sanggup mengalahkan Rangga Siluman yang terkenal gagah, hanya ia menunjukan jalan untuk mencapai tujuan itu, disuruhnya Nimbang Waringin menghubungi Jobin Jobabintara yang sedang bertapa.
Jobin Jobabintara menyanggupi permintaan itu, tetapi dengan syarat bahwa ia harus diberi senjata dan disembelihkan kerbau. Gajah Waringin menyerahkan keris parung ganja wulung yang jantan kepada Jobin Jobabintara. Bukan main gembira hatinya menerima senjata yang memang dicari-carinya.
Langon Sari berhasil mengalahkan Rangga Siluman. Setelah itu Langon Sari bertemu dengan Jalak Mangprang, saudara seayah Langon Sari.
Jalak Mangprang berhasil menyadarkan Langon Sari atas kekeliruan terhadap adiknya, jalan mangprang dan wayang Mangprang menasehati Langon sari agar mencari Sumur Bandung dan membawa ke negara Daha.
Di perjalanan, Langon Sari bertemu dengan Sarasah Wayang, istri Rangga wayang. Dalam suatu peperangan, Sarasah wayang dapat dikalahkan Sumur Bandung.
Sesuai dengan janji Langon Sari bahwa jika Sumur Bandung mau dibawa pulang ke daha akan dikawinkan dengan Raja Sungging, maka sesampainya di negara itu akan dilangsungkan pesta besar-besaran. Tetapi sebelumnya, negara Paku Rucuk beusi yang rajanya bernama Jaka Panandur harus ditaklukan dulu oleh Rangga Wayang.
Setelah menaklukan Jaka Panandur, Rangga Wayang mengawinkan Sumur Bandung dengan Raja Sungging. Rangga Wayang dan Langon Sari tetap tinggal di negara Babakan Karta Yuda.
Sumur Bandung ingin sekali mempunyai keturunan yang dapat meneruskan jejaknya memerintah negara.
Sumur Bandung akhirnya mengandung, dan pada saat melahirkan, ia ditolong oleh prameswari Nimbang Waringin. Bayinya perempuan, tetapi kemudian ditukar dengan seekor kucing. Bayi yang tak berdosa itu dimasukkan ke dalam peti besi, lalu dihanyutkan ke sungai Cisanggiring, sedangkan Sumur Bandung akhirnya di buang ke hutan, karena raja sungging tidak mau mempunyai snak seekor kucing.
Bayi yang hanyut terkatung-katung ditemukan oleh Aki dan Nini Benggol Jalawura. Bayi itu dinamainya Nyi Ilid.
Demi mendengar bahwa kesengsaraan yang diderita Sumur Bandung dan bayinya karena ulah Nimbang Waringin dan Gajah waringin, maka Rangga wayang marah sekali, ia ingin sekali membalas dendam, tetapi selalu dihalang-halangi oleh Sumur Bandung, bahkan Nyi Sumur Bandung menyarankan agar hal itu jangan dibesar-besarkan. Untuk membuka tabir kelicikan Nimbang Waringin lebih baik dicarikan yang sehalus-halusnya.
Dalam perjalanan pulang menuju Kuta waringin, Sumur bandung menciptakan sebuah negara baru yang diberinya nama Babakan Karta Yuga, kemudian bayinya yang bernama nyi Ilid diganti namanya menjadi Aci Bangbang Sumega Wayang Nyi Mas Ayu Karantenan.

Asal Usul Sekitar Daerah Majalengka

28. ASAL MUSALNA DESA PADAREK

Desa padarek dalam cerita lamatatkala syam hidayah tullah menyebabkan agam islam didaerah updeling kersina cirebon kira-kira abad ke-18, beliau sangat banyak pengikutnya yang setia dalam rangka menyebar luaskan agama islam, menaklukan agama animesme, memberantas kemusrikan dan kemaksiatan, akibat dari itu dipelosok pedusunan, pedesaan banyak terjadi bentrokan fisik satu sama lain saling mempartahankan keyakinan dan paham masing-masing.

Di saat itu keadaan desa padarek sebagian besar tanahnya masih padang alang-alang, semak belukar. Kita ungkap para pengikut syarip hidayat tuloh sebagai pejuang penyebar agama islam, seperti eyang djugat wahana jaya karta, ibu ena, nyi rastapa,dan lain-lain. Sedang berjuang melawan musuh . Eyang djagat wahana meninggal, tertimpa batu handring yang di lepas musuh dari blok batu numpang. Batu handring itu mental pula kira-kira 300m, ke arah timur yang ada di pinggir kali Cisampara setelah bertahun-tahun batu itu di selimuti dan di tembus akar-akaran batang menjalar / istilah bahasa sunda areuy-areuyan maka di sebutlah julukan BATU KARUT. Bekas jatuh menimpa Djagat wahana jadi sebuah kolam sipatahunan sedangibu Ena, Nyi Rastapa yang memiliki selendang lekcan mempunyai kekuatan gaib meninggal di sebelah timur padarek.

Beberapa abad yang lalu sebuah peristiwa tersebut tak jauh dari batu karut dan kolam sipatahunan kurang lebih 400m ke arah utara, terdapat sebuah kampung tarikolot. Kian lama penghuninya kian bertambah, maka dusun itu dijadikan desa. Yang di pimpin oleh Demang Aslia setelah ia memerintah 11 tahun lamanya ia di ganti oleh Demang Arsaim. Keadaan ekonomi rakyat rusak atap bangunan pun masih alang-alang, sirap bamboo, sedang pakaian masih compang-camping maka sering terjadi pencurian terutama hewan besar, kerbau, sapi. Oleh karenanya kantor desa harus pindah ke blok babakan, karena sumber ekonomi masih sempit maka demang mengajak seluruh warga desa untuk membuka memperluas lahan pertanian, warga manyambut dengan gembira seraya mengucapkan PADAREK dari itulah nama desa PADAREK WALKHUALAM.

Sedikit demi sedikit lahan pertanian mewujud walaupun belum ada irigasi, seperti keadaan sekarang ini, namun telah bisa di manfaatkan dan hasilnya bisa di nikmati. Demang Arsaim memangku jabatan selama 9 tahun, ia sudah tua bangka, dan akhir tahun 1903 ia meninggal dunia. Kedemangan kini di jabat oleh Santana Wangsa, setelah ia memerintah beberapa tahun di desa itu kantor desa harus pindah lagi ke blok batu karut, yaitu yang lokasinya kini tempati. Wilayahnya meliputi : 1) Blok Desa 2) Tari Kolot 3) Cibulakan 4) Mananti 5) Pasirhanja 6) Suka Wangi 7) Cigobang meliputi Dayeuh panjang, Cipasung, Cicariang 8) Cisalak, dengan batas-batasnya. Sbb :
Utara : Desa Bantarujeg
Timur : Desa Kalapa Dua
Selatan : Desa Cibulan & Desa Lemah Putih
Barat : Desa Sada Wangi & Desa Kepuh
Desa padarek setelah negara merdeka :
Setelah negara merdeka timbulah kekacauan yang ingin mendirikan negara islam Indonesisa yaitu gerombolan D.I / TII yang dipimpin oleh S.M. Karto Suwiryo, Desa Padarek pun jadi sasaran penggarongan, pembakaran rumah, pembunuhan, penculikan, pada tanggal 11 Agustus 1959 padarek pun sebagai ibu kota di bakar hangus pemerintah desa tidak stabil, pendidikan kocar-kacir, di waktu malam tidur pundi rungkun-rungkun bamboo dsb.

Tahun 1981 desa padarek di mekarkan jadi 3 desa yaitu : 1) Desa Padarek 2) Desa Sukajadi 3) Desa Marga Jaya saat itu kades sedang di pangku oleh Radi LK.Batas-batas Desa kini berubah sebagai berikut :
Utara : Desa Sukajadi
Timur : Desa Kalapa Dua & Desa Sinar Galih
Selatan : Desa Marga Jaya
Barat : Desa Sukajadi
Meliputi 1) Blok desa 2) Tarikolot 3) Cigobang termasuk Dayeuh Panjang, Cipining Cicariang.
Susunan kepala desa lama dan setelah di mekarkan : 1) Demang Aslia 2) Demang Arsoim 3) Santana Wangsa & 4) Wangsa Atmaja 5) By. Bima 6) Lampu 7) Endo Hamola 8) Karta Winata pjs 9) Danuri 10)Al Hatob pjs 11) M. Hatob 12) M. Arkasim 13) Ojo Sujana 14) Radi L.K. 15) Dadang Haerudin pjs 16) Dadang Haerudin 17) Dadang Haerudin 18) Hapip R. K. pjs 19) Dadang Haerudin

Keterangan :
1) Luas wilayah : 436.005 Ha. Ketinggian tanah 489m dari permukaan laut, terdiri dari perbukitan, mata pencaharian penduduk, petani buruh tani, dagang, wiraswasta, dll.
2) Bekas batu bandring menimpa jadi kolam sipatahunan
3) Batu bandring kini di sebut batu karut masih wujud cerita ini di himpun dari sesepuh desa padarek lama, oleh Ginon Akroman sejak tahun 1986M.

29. ASAL MUASALNA DESA PANONGAN

Pada tahun 1769 di dataran rendah sebelah Timur Sungai Cimanuk ada sebuah penduduk/dusun yang namanya dusun “Siwalan” Sebab disebut dusun Siwalan karena ditempat tersebut banyak tumbuh pohon siwalan. Di dusun itu dihuni oleh satu keluarga namanya aki dan Onclong kopik beserta pengikutnya yang namanya aki dan nini terbin.

Keluarga tersebut sehari-harinya sebagai petani. Waktu itu untuk sumber air minum, mandidan menyiram. Mereka membuat sumur dan menggali, berkat kesaktiannya keluarlah air yang banyak dan sumur tersebut diberi nama su ur sugara yang sampai kini dianggap keramat.

Lama kelamaan penduduk di dusun Siwalan bertambah banyak, pada tahun 1825 datanglah 2 utusan dari kesultanan Cirebon untuk memimpin pendukuhan tersebut. Mereka dalah Kibuyut Dokom dan kibuyut Ruda, sebab wilayah itu masih wilayah Cirebon, untuk tugas ke-2 orang tersebut kibuyut Ruda menjadi kuwu dan kibuyut Dokomnya lebe.
Namun kenyataannya kenyataanya Ki Ruda menjadi kuwu hanya berjalan kurang lebih 1 tahun, sebab perasaan dirinya belum mampu, begitu pula ki Dokom menjadi lebe kurang mampu, sebab ki Ruda keahliannya di kalebean atau kesra sedangkan ki Dokom di pemerintahan di oper alih ke ki Dokom menjadi kuwu dan ki Ruda menjadi lebe.
Berkat kepemimpinan kedua orang tersebut ngaheuyeuk dayeuh ngolah dusun dengan arif dan bijaksana keadaan subur makmur gemah ripah repeh rapih.
Sepuluh tahun kemudian kepemimpinan ki Dokom telah berlalu dan kibuyut Dokom mengundurkan diri lalu diganti oleh putra daerah asli dusun Siwalan, yaitu kibuyut Bangi. Begitu pula berkat kepemimpinan ki Bangi dalam keadaan subur gemah rapih repeh rapih.

Namun kira-kira pada tahun 1839-an ada sebuah tragedy perang yang katanya pada waktu itu disebut perang “babad bantar jati”pada wakti itu selaku senopan perang / pemanggil juritnya, yaitu ki Rangin/ ki Bagus Rangin perang dengan tentara Belanda yang dating dari arah Sumedang, yang pada waktu itu sebagai bupati kepala daerah Sumedang atau Pangeran yang terkenal arif dan bijaksana, walaupun dirinya orang Belanda tetapi sangat menyayangi rakyat kecil.

Namun pada perang tersebut para penduduk dusun Siwalan tidak ikut campur hanya mengintai saja. Orang Sunda bilang “Noong”. Melihat kejadian tersebut seusai perang para sesepuh desa Siwalan mengadakan rempungan / musyawarah untuk mengganti nama dusun Siwalan menjadi desa Panongan atau “Panoongan”, sebab pada perang tersebut diatas hanya mengintip atau noong dan hingga sekarang namanya desa Panongan.
Kira-kira pada tahun 1857 katanya kedatangan pula ke desa Panongan tersebut seorang pejuang yang bernama mbah buyut Guru Kusuma asal dari Jawa Timur, di salah seorang pejuang agama Islam dan pejuang Negara yang ikut perang dengan Pangeran Diponegoro. Dia datang ke desa Panongzn dengan cara menyamar dengan memakai karung kadut, sebab dia sedang dikejar-kejar oleh musuh. Lalu datangnya ke desa Panongan dirinya merasa aman dan dia menginap di keluarga kuwu Bangi.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun mbah buyut Guru Kusuma di desa Panongan itu medirikan perguruan di bidang baca tulis Al-Qur’an atau dalam hal bela diri. Untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam bersama sesepu dan penduduk desa Panongan.

Lalu oleh para penduduk mbah buyut Guru Kusuma diberi julukan buyut kadut, perguruan itu tempatnya di pinggir desa atau dayeuh. Dengan adanya perguruan itu yang dipimpin beliau Desa Panongan cukup meningkat di dalam ilmu keagamaan / hal bela diri. Jadi dengan adanya beliau membawa berkah untuk masyarakat Desa panongan da sekitarnya, buyut Jaka pun sampai sampai akhir hayatnya didesa panongan dan dimakamkan di blok pasir begitu pula kuwu Bangi.istirinya dimakamkan dberdampingan dengan kibuyut Jaka Kusuma sampai sekarang masih ada makamnyadan dianggap keramat oleh para penduduk setenpat dan sekitarnya juga oleh para ulamahingga kab. Majalengka dan sekitarnya. Dan begitu pula ki Ruda dan ki Buyut Dokom sampai akhir hayatnya di desa Panongan dan dimakamkan di sebelah timur solokan Cibeet, ki buyut Dokom di sebelah Barat makan ki Buyut Ruda.

Demikian sekilas pandang asal-usul Desa Panongan Kec. Jatitujuh Kab. Majalengka. Apabila dalam tulisan ini ada yang tidak pas dengan kenyataan mohon maaf sebesar-besarnya, tulisan ini didapat dari arsip desa yang ada dan disusun kembali oleh raksa bumi. Semoga ini menjadi gambaran bagi anak-cucu kita di kemudian hari.

30. ASAL MUASALNA DESA PANYINGKIRAN

Dahulu kala kira-kira pada pertengahan abad 17. Ketika di Cirebon sudah menyebar agama Islam, begitu juga di daerah Jawa Barat lainnya. Ketika itu ada seseorang dari kerajaan Mataram yang bernama EMBAH GAMBIR yang diutus oleh RATU ANOM (seorang raja), untuk mencari seorang calon permaisuri yang cantik. Karena RATU ANOM belum mempunyai permaisuri.

Selama perjalannanya EMBAH GAMBIR didampingi oleh beberapa menteri dan para pengawal. Mereka berjalan kearah Barat dan sedikit ke Selatan. Namun setelah berhari-hari berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya, mereka mencari seorang wanita cantik, tapi tak kunjung mereka temukan. Sedangkan perjanjiannya mereka harus menemukan wanita cantik tersebut selama 1 minggu. Akhirnya mereka menyerah dan berhenti di sebuah tempat yang pada saat itu masih berupa hutan belantara.
Karena pembekalan sudah habis dan mereka tidak mungkin bepergian lagi. Akhirnyamenetaplah mereka di sana dengan harapan mereka dapat tinggal di sana seraya seraya menunggu dan mencari wanita cantik di tempat-tempat sekelilingnya.
Untuk makan, minum, mandi dan sebagainya digalilah sebuah sumur yang di atasnya ditutup oleh belahan kayu (Padung). Oleh karena itu, daerah tersebut diberi nama CIPADUNG dan sampai saat ini sumur itu masih ada.

Dibagian Selatan dibuatlah sebuah tempat untuk meliht (Tenjo, Sunda) dan meninjau tempat-tempat sekelilingnya.Hingga daerah tersebut diberi nama PANENJOAN. Di waktu sore hingga maghrib mereka berpindah ke tempat yang lebih tinggiuntuk melihat lembayung (Layung, Sunda). Hingga sekarang daerah tersebut dinamakan PANGLAYUNGAN.
Akhirnya dijadikanlah semua daerah tersebut tempat untuk mereka menetap selama-lamanya, untuk menghindar (Nyingkir) dari RATU ANOM dan kerajaan Mataramnya. Hal ini terjadi karena EMBAH GAMBIR tidak berhasil mencari calon permaisuri untuk RATU ANOM, karena kegagalannya itu mereka akan mendapat hukuman. Hingga daerah itu dijadikan sebuah desa yang bernama “PANYINGKIRIAN” yang berasal dari kata Nyingkir (menghindar).

Daerah itu dijadikan oleh EMBAH GAMBIR menjadi sebuah kerajaan (keration) atau kesatuan dan EMBAH GAMBIR sendiri yang menjad rajanya. Setelah beberapa lama EMBAH GAMBIR menjalankan pemerintahan.
Akhirnya wafatlah ia disana tempat tersebut kemudian dinamakan KEDATUAN berasal dari KERATUAN.

EMBAH GAMBIR semasa hidupnya putus asa untuk menemukan wanita cantik dan putus asa untuk kembali ke Mataram maka makam EMBAH GAMBIR disebut juga EMBAH PONDOK.
Demikian untuk tutur cerita tentang Riwayat PANYIGKIRAN. Kebenarannya Wallahu A’lam

31. ASAL USUL DESA PARAKAN

Parakan adalah sesuatu desa yang di mana dahulunya bernama Gunung Sari Trajutisna itu ada sebuah pemakaman yang disebut Buyut Trajutisna dan pemakaman itu sebenarnya bukanlah wujudnya manusia, yang dikubur berupa pekakas seperti pedang, keris, dan alat perkakas lainnya.

Pada zaman itu perkakas tersebut dianggapnya sebagai barang pekakas besar oleh masyarakat Parakan. Barang pusaka itu dianggapnya keramat, menurut orang tua, dahulu perkakas itu tidak boleh digali atau dirusak oleh siapa saja. Tetapi kepercayaan itu sekarang sudah hampir hilang karena kepercayaan menyembah dan menganggap keramat kepada benda atau kuburan itu dinamakan dinamisme. Buyut Trajutisna itu letaknya di Dukuh Kulon.

Pengambilan nama Dukuh Kulon itu mungkin karena letak perkampungan itu ada di sebelah barat atau kampung Dukuh Kulon letaknya yang palingS berat dari keseluruhan Desa Parakan.

Di Rajagaluh ada kerajaan yang diperintahkan oleh bangsa Walanda yang bernama Ratu Galuh dan agama yang dianutnya oleh mereka yaitu agama kafir. Mereka ingin masuk kepada agama Islam. Ratu Galuh mempunyai seorang putra laki-laki ia sedang sekali marak (sunda) yaitu mengambil ikan di sungai Cikamangi di Desa Trajutisna yaitu di antaranya Leuwi Sumar dan Leuwi Cadas.

Marak itu menimbulkan berbagai kerusakan-kerusakan seperti sawah yang dekat sungai itu menjadi rusak. Karena tanahnya diambil yang ada di pinggir sungai pun menjadi rusak. Bendung sungai Cikamangi apabila akan marak.

Nyi Rambut Kasih dalam hatinya merasa kesal melihat perbuatan mereka itu, kemudian ia mengambil tusuk kondenya itu, lalu diciptakanlah menjadi ikan yang besar yaitu ikan senggal yang warnanya putih. Setelah sungai itu airnya surut, maka ramai-ramailah mencari ikan, sedang ramainya mencari ikan kemudian senggal itu menghendaki agar putra galuh itu mati.

32. SEJARAH TENJOLAYAR

Berdasarkan cerita rakyat (legenda) Desa Tenjolayar mempunyai rangkaian sejarah dengan beberapa desa lain di sekitarnya, seperti Desa Manjeti dan Cigasong. Daerah ini diperkirakan zaman dahulu merupakan bagian dari kawasan yang dekat dengan Laut Jawa.

Menurut keterangan Aki Emen (sesepuh), zaman dahulu ada dua orang Kiyai bersaudara asal Cirebon bernama Embah Karsijah dan Embah Kawung Poek. Kedua orang ini tidak rukun dalam kehidupannya, apalagi Kawung Poek mempunyai sifat tamak akan kekuasaan. Berdasarkan kejadian tersebut, Embah Karsijah minta tolong kepada Embah Karim saudara mereka. Sehingga persengketaan dapat diselesaikan oleh Kiyai Karim dengan keputusan, bahwa daerah kekuasaan dibagi menjadi dua, yaitu:
1.Daerah sebelah timur (sekarang Desa Tenjolayar) dikuasai oleh Embah Karsijah.
2.Sebagian besar wilayah Cigasong dikuasai oleh Embah Kawung Poek.
Berdirinya Desa Tenjolayar sekira tahun 1905 atas ajuan tokoh masyarakat kepada Kanjeng Dalem (bupati Majalengka saat itu). Agar tempat ini menjadi sebuah desa, Kanjeng Dalem meminta agar terlebih dahulu didirikan Sekolah ngadapang (Sunda, tengkurap di atas lantai/tanah). Di lokasi sekolah ngadapang tersebut sekarang berdiri Sekolah Dasar Negeri Tenjolayar 1.

Asal kata Tenjolayar sendiri terdiri dari dua suku kata yakni Tenjo yang berarti melihat dan Layar yang berarti layar perahu. Menurut keterangan masyarakat kata Tenjolayar berarti melihat layar, arti ini dapat dibuktikan dengan adanya suatu tempat di Tenjolayar yang bernama Pesanggrahan. Konon tempat tersebut adalah tempat istirahat Ratu Majalengka. Dari tempat ini kita dapat melihat ke arah pantai Cirebon.
Putra Galuh yang sedang akan mengambil ikan senggal tadi, tetapi dengan jilat ikan senggal menyambar tenggorokan Putra Galuh. Setelah menyambar tenggorokan putra galuh ikan senggal itu menghilang. Putra Galuh itu kemudian di bawa langsung ke Rajagaluh. Setelah sampai di Keraton Rajagaluh beberapa waktu kemudian Putra Galuh meninggal dunia.

Sebelum azalnya tiba mengucapkan yang berbunyi “Apabila orang Trajutisna kawin dengan orang Rajagaluh maka di antara mereka tidak umurnya atau tidak jodohnya.” Kemudian setelah kejadian itu Desa Trajutisna dinamakan desanya menjadi Desa Parakan.

LEGENDA KELURAHAN CIKASARUNG
KECAMATAN MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA

Di sebelah utara kota Majalengka, sekitar kurang lebih 2,5 Km dari pusat kota Kabupaten setelah melewati Pasir Melati dan Sungai Cideres ada sebuah kelurahan bernama Cikasarung. Kelurahan Cikasarung termasuk dalam wilayah Kecamatan Majalengka dan merupakan perbatasan sebelah utara dengan Kecamatan Dawuan. Jumlah penduduk Kelurahan Cikasarung saat ini 2885 jiwa dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Sebagai sebuah Desa/Kelurahan, Cikasarung bersifat homogen, hal ini menjadikan interaksi antar warganya begitu akrab-bersahabat penuh rasa kekeluargaan.

Lajimnya sebuah kawasan pemukiman di daerah Pasundan penggunaan kata ‘ci’ yang diambil dari kata cai yang berarti air mengandung makna bahwa tempat tersebut subur dengan terdapatnya sumber-sumber air yang melimpah yang ditenggarai dengan adanya satu atau ada beberapa sungai di tempat tersebut.

Di Kelurahan Cikasarung ada sungai yang mana dari nama sungai tersebut lah nama Cikasarung diambil. Sungai Cikasarung berhuli di sebelah Tenggara Kelurahan mengalir sampai Desa karangsambung Kecamatan Kadipaten dan bermuara di Sungai Cilutung.

Di antara nama-nama desa / kelurahan yang berada di Kabupaten Majalengka bahkan di Jawa Barat sekalipun, mungkin nama Cikasarunglah yang terasa asing dan mungkin juga unik di telinga orang-orang yang mendengarnya. Hal tersebut bisa dilihat dari ekspresi orang-orang yang selalu tersenyum ketika nama Cikasarung disebut. Rata-rata mereka beranggapan nama itu diambil dari kata ‘sarung’ dengan mengartikannya ‘cai dina sarung’ (air di dalam kain sarung). Atau ada juga yang menghubungkannya dengan cerita rakyat Lutung Kasarung. Namun menurut sesepuh nama Desa Cikasarung itu diambil dari nama sungai yang mengalir melingkari blok desa. Nama Cikasarung sendiri diambil dari dua kata yaitu: cai dan kasarung.

Menurut para sesepuh desa, asal muasal keberadaan Kelurahan Cikasarung tidak bisa dilepaskan dengan Sejarah Kerajaan Islam Mataram di Jawa Tengah. Pada masa Mataram diperintah oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram berniat merebut Jayakarta yang pada waktu itu bernama Batavia dari tangan penjajah Belanda. Untuk menyukseskan penyerangan tersebut diperlukan perencanaan yang matang dan jitu. Melihat jarak Mataram- Batavia yang begitu jauh maka sang Sultan memperhitungkan bahwa masalah logistik atau bahan pangan akan menjadi kendala terbesar yang akan dihadapi oleh pasukan Mataram. Untuk mengatsi hal tersebut Sultan memutuskan untuk mengirim secara rahasia para prajurit yang mempunyai keahlian bercocok tanam guna membuka lahan-lahan pertanian di sepanjang jalur yang akan di lewati yaitu di sekitar jalur pantai Utara Jawa Barat sekarang ini. Tugas pokok prajurit-prajurit tersebut adalah membuat lumbung-lumbung padi untuk mensuplai kebutuhan logistik pasukan.

Diceritakan lima orang prajurit mataram sampai ke sebuah tempat di kawasan Kelurahan Cikasarung saat ini. Di tempat tersebut hanya terdapat beberapa keluarga petani yang sederhana dengan seseorang yang dianggap sebagai sesepuh mereka, tepatnya tempat itu masih berupa babakan bukan kampung apalagi desa. Seperti layaknya orang pedesaan warga Babakan itu menyambut kedatangan kelima tamu tak dikenal itu dengan ramah, mereka berkumpul di rumah sesepuh bercengkrama penuh keakraban.
“ Jadi apa maksud ki sanak berlima datang ke sini ?” Tanya sesepuh setelah orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing, saat suasana mulai tenang.
“ Sebab saya lihat dari sikap dan penampilan ki sanak bukan para pengembara sembarangan yang kesasar tanpa arah dan tujuan,” lanjutnya lagi.
Kelima prajurit itu saling pandang satu sama lainnya, kemudian keempat orang dari mereka menggunakan kepala kepada seseorang yang menjadi juru bicara, rupanya orang itu adalah pemimpin diantara mereka berlima.
“ melihat keramahan dan keikhlasan hati menyambut kami berempat, baiklah saya akan menerangkan siapa kami sebenarnya. Kami yakin Aki cukup bijak untuk menyimpan rahasia ini.” Lantas pimpinan itu mencerikan semuanya.
“ Begitulah Ki ceritanya.” Ucap pimpinan prajurit itu.
“ O, begitu. Jadi raden-raden ini prajurit Mataram.”
“ Jangan panggil kami raden, toh kami hanya prajurit biasa dan lagipula kami sampai ke Babakan ini bisa juga disebut nyasar karena tujuan kami sebenarnya adalah jalur Pantai Utara Jawa.
“ Baiklah kalau begitu saya pribadi sangat mendukung perjuangan Sultan untuk merebut Batavia. Sebagai bentuk dukungan, saya akan mengganjar kalian dengan lahan sebelah Timur babakan ini untuk digarap menjadi lading atau sawah.”
“ Ooh … terima kasih sekali, Ki.” Jawab mereka berlima serempak.
“ Orang-orang Babakan ini penuh rasa welas asih ini memang Babakan Asih !” Seru pimpinan prajurit kegirangan.

Sejak saat itu Babakan tersebut disebut blok Babakan Asih karena orang-orang di Babakan itu mempunyai sifat welas asih yang tinggi. Sedangkan kelima prajurit Mataram disebut sebagai Balaganjar diambil dari kata Balad dan Ganjar yang artinya : Orang-orang atau kelompok yang diganjar – diberi anugrah, dan tempat mukim merekapun disebut blok Balaganjar.

Setelah itu kelima prajurit Mataram yang memang ahli dalam bertani menggarap lahan yang diberikan oleh sesepuh Babakan Asih. Kendala pertama yang mereka temui susahnya mencari sumber air untuk mengairi lahan mereka, karena letak lahan pertanian yang akan mereka garap lebih tinggi dari Sungai Cideres deet yang berada di sebelah utaranya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sumber air di bukit sebelah selatan. Hamper seharian penuh mereka mencarinya, menjelang waktu Ashar mereka menemukan rembesan-rembesan air yang keluar dari rumpun-rumpun honje yang terletak di tebing pasir ynag agak landai. Setelah di korek-korek rembesan-rembesan air itu semakin membesar.
“ Air! Air!” seru mereka kegirangan.
“ Airnya deras sekali, dan jernih.”
“ Cepat bikin pancuran! Biar nanti besok kita buatkan parit-parit untuk aliran airnya.” Perintah sang pemimpin.

Usai sudah pencarian sumber air dan pembuatan saluran irigasi. Dengan tangan dingin kelima petani prajurit itu lahan pertanian Balaganjar yang tadinya hanya lading, semak-semak dan ilalang telah berubah menjadi pesawahan yang subur, dan orang-orang Babakan Asih juga mulai bercocok tanam di lahan tersebut.

Sumber mata air sampai sekarang masih mengalir deras bahkan di musim kemarau sekalipun. Penduduk Dusun Dukuh Pasir – bagian dari Blok Balaganjar sekarang ini – banyak memanfaatkan mata air tersebut untuk mandi mencuci selain untuk mengairi sawah mereka. Penduduk Kelurahan Cikasarung menyebut mata air tersebut dengan sebutan Cihanja mungkin diambil dari kata honje.

Keberhasilan lima prajurit Mataram semakin membuat penduduk Babakan Asih menaruh hormat dan kagum pada mereka. Mereka sering diajak berembuk dalam segala hal yang menyangkut kepentingan bersama. Rasa hormat dan kagum penduduk Babakan Asih diungkapkan dengan pemberian nama-nama kepada kelima prajurit Mataram tersebut seperti : Ki Ganjar sebutan untuk pimpinan kelima prajurit itu, dan untuk prajurit yang mempunyai sifat cakap dan pintar mereka menyebut Ki Jaksa, dan untuk prajurit yang mempunyai keahlian bercocok tanam palawija mereka menyebutnya Ki Bogor, untuk prajurit yang ahli dalam pengobatan mereka menyebutnya Aki Dukun, sedangkan prajurit yang ahli bangunan Ki Putul, nama tersebut lalu diabadikan oleh warga Kelurahan Cikasarung menjadi sebuah tempat / buyut.

Dengan kedatangan kelima prajurit Mataram tersebut taraf kehidupan Penduduk Babakan Asih ada peningkatan dari sebelumnya, hal itu bisa terlihat dari hasil panen yang melimpah dikarenakan semakin luasnya lahan pertanian yang digarap. Mereka selalu bisa menyimpan hasil panen tiap musimnya, sisa dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka menjual hasil pertaniannya ke pasar yang letaknya kurang lebih 15 Km di wilayah Kadipaten sekarang ini dengan cara dipikul melewati hutan belantara. Mereka pergi ke pasar setiap seminggu sekali di hari yang biasa mereka sebut sebagai poe pasar. Dan dari pasar ini pula mereka mendapatkan informasi keadaan di luar Babakan tempat tinggal mereka.
Suatu hari bada isya, sesepuh mengundang kelima prajurit Mataram kerumahnya.
“ Ada apa Ki? Sepertinya penting sekali Aki mengundang kami malam-malam begini.” Tanya Ki Ganjar.
“ Ki Ganjar saya mendengar berita dari tukang kain di pasar bahwa Belanda telah mengetahui rencana Sultan untuk menyerang Batavia dan merekapun telah mengetahui Strategi Sultan yang mengirim prajuritnya untuk membuka lahan pertanian, sekarang ini mereka sedang mencari para prajurit yang menyamar jadi petani. Mereka telah banyak menangkapi dan membakar lumbung-lumbung padi di sekitar Pesisir Pantai Utara Jawa. Saya khawatir keberadaan kalian berlima diketahui oleh mereka, karena itu sebaiknya kalian bersembunyi atau pergi dari Babakan ini.” Jawab sesepuh menjelaskan maksud mengapa dia mengundang kelima prajurit itu secara diam-diam.
“ Kenapa kami harus pergi Ki, bukankah jika tentara Belanda datang kami bisa mengaku sebagai orang Babakan ini?” Tanya Ki Ganjar lagi.
“ Penduduk Babakan Asih sedikit, jadi kalau ada orang asing di sini mudah dikenali, lagi pula logat bicara kalian beda sekali dengan kami, sepintas saja orang bisa bahwa kalian dari Jawa.”
“ Tapi tidak mungkin kan kalau kami saat ini harus kembali ke Mataram tugas kami belum selesai.” Ucap Ki Ganjar.
“ Saya tidak mengusulkan kalian untuk kembali ke Mataram tapi untuk bersembunyi sampai keadaan benar-benar aman.”
“ Bagaimana ini saudara-saudara?” Tanya Ki Ganjar kepada keempat temannya.
“ sebagai prajurit Mataram rasanya tidak pantas kita lari atau bersembunyi dari musuh, bukankah kita juga berbekal senjata?” Jawab Ki Putul.
‘ saya sependapat dengan Ki Putul, kita lawan mereka! Biar harus meregang nyawa kita mati dalam keadaan terhormat. Kita ini sejatinya adalah seorang prajurit ingat itu! Kita bukan hanya petani kita prajurit!” Ki Bogor menimpali dengan berapi-api.
“ Saya rasa itu kurang tepat.” Sanggah Ki Jaksa.
“ Mengapa?!” Tanya Ki Putul dan Ki Bogor hampir berbarengan.
“ Berikan kami alasannya!” Pinta Ki Bogor dengan nada bicara yang sedikit emosional.
“ Karena jika kita melawan, orang-orang Babakan Asih akan kena getahnya.” Ujar Ki Jaksa dengan nada yang datar dan ekspresi.
“ Ya benar, kita tidak mungkin melibatkan apalagi mengorbankan mereka semua. Mereka petani asli tidak seperti kita.” Ki Dukun menambahkan.
“ Lagi pula kita kalah dalam hal kelengkapan senjata dan jumlah prajurit juga kemampuan bertempur, pasti kita kalah total. Keberanian harus tetap ada, tetapi harus memakai akal jangan sampai kita mati konyol.”
“ Apa?! Ki Jaksa menganggap bahwa mati sebagai prajurit di medan perang sebagai sebuah tindakan konyol?” jelas sekali terlihat kekesalan dalam raut muka Ki Bogor.
“ Bukan begitu maksud saya Ki…”
“ Lalu apa?” potongnya cepat.
“ Sudah, sudah yang harus kita utamakan sekarang adalah keselamatan penduduk Babakan Asih, sekaligus tugas kita juga bisa dijalankan. Lagi pula Sultan menugaskan kita bukan untuk berperang tapi menyiapkan lumbung-lumbung padi untuk logistik pasukan di saat nanti menyerang ke Batavia.” Sela Ki Ganjar menengahi .
“ Tapi Ki ganjar, Belanda sudah mengetahui hal tersebut.” Ujar sesepuh mengingatkan.
“ kita harus mencari jalan keluarnya.” Ucap Ki Ganjar. Semua orang terdiam, termenung berpikir keras mencari jalan keluar yang terbaik. Suasanapun hening dan tegang desah daun-daun bambu yang diterpa angina malam semakin membuat malam mencekam.
“ Begini saja.” Ki Ganjar memecahkan kebekuan.
“ Sultan menugaskan kita dan kita tidak boleh menyimpang dari tugas utama sebelum ada perintah lain.”
“ Iya saya tahu tapi maksudnya bagaimana ini?” Tanya sesepuh.
“ maksud saya begini kami berlima akan pindah dari Balaganjar. Kami akan membuka lahan baru secara sembunyi-sembunyi yang jauh dari pemukiman penduduk, jangan sampai ada seorang penduduk yang mengetahuinya dan kami akan membuka lahan secara berpencar supaya tidak mudah dilacak Belanda.” Ki Ganjar menghentikan ucapannya sedangkan kelima orang lainnya terlihat mengangguk angguk sebagai tanda mengerti dan setuju dengan pendapat Ki Ganjar.
“ Saya memerlukan bantuan Aki.” Sambung Ki Ganjar.
“ Apa yang bisa saya bantu?” balas Ki Sesepuh.
“ Besok kami akan pergi ke Bukit sebelah selatan mudah-mudahan di sana di temukan tempat yang cocok.”
“ Lalu apa tugas saya?” Tanya sesepuh.
“Besok pagi-pagi Aki kumpulkan seluruh penduduk yang ada di Babakan Asih kami akan bilang kepada mereka bahwa kami akan berpamitan dengan begitu semua orang akan mengira bahwa kami telah pulangke kampung halaman. Setelah itu Aki berpura-pura mengantar kami, kita berjalan berputar agar mereka tidak tahu bahwa tujuan kita adalah bukit di sebelah Selatan.”
“ Ya… ya saya mengerti.” Ucap sesepuh.
“ Jadi jika suatu hari ada Belanda datang kemari mencari orang-orang Mataram tidak akan ada orang yang tahu. Hal ini baik sekali untuk keamanan orang-orang di sini. Bukankah hanya Aki seorang yang tahu bahwa kami prajurit Mataram?” Tanya Ki Ganjar.
“ Saya jamin itu, Ki.” Ucap sesepuh meyakinkan Ki Ganjar.
“ Dan sekarang, mungpung hari telah malam, tolong KI Putul dan Ki Bogor membereskan persenjataan perang kita, kalian harus membawanya jauh dari sini untuk disembunyikan kalau perlu dikubur saja biar aman. Sedangkan saya dengan Ki Jaksa dan Ki Dukun akan berkemas barang-barang.”
“ Baik, Ki” jawab Ki Putul dan Ki Bogor.
“ Saya rasa pertemuan ini telah selesai, kami mohonn pamit untuk berkemas dan bersiap-siap.” Ki Ganjar pamit kepada sesepuh.

Malam itu juga Ki Ganjar dan teman-temannya sibuk berkemas. Ki Putul dan Ki Bogor terlihat menyelinap keluar rumah menuju sebuah bukit di sebelah timur dengan membawa peralatan perang yang mereka punyai semisal keris, pedang, tameng, panah, dan tombak. Mereka mengubur benda-benda tersebut di puncak Bukit sebelah timut Balaganjar.
Esok harinya setelah berpamitan kepada penduduk Babakan Asih kelima prajurit Mataram di temani sesepuhh Babakan mendaki bukit di sebelah selatan Balaganjar. Mereka menelusuri setiap tempat mencari lahan yang cocok untuk membuka lahan pertanian yang baru. Ternyata bukit itu cukup luas malahan lebih luas dari luas Balaganjar ditambah Babakan Asih.
“ tempat ini cukup subur pepohonannya tumbuh dengan bagus, daerah ini sangat cocok untuk pesawahan.” Ujar Ki Ganjar.
“ Ya, sangat sayang sekali kalau hanya ditanami singkong atau ganyong.” Ki Bogor menambahkan lalu ia berjongkok mengambil segenggam tanah dikepal-kepalnya dan di ciumnya.
“ Tapi untuk dijadikan pesawahan kita membutuhkan pengairan yang baik.” Jelas Ki ganjar.
“ Mudah-mudahan kita menemukan sumber air disini” kata Ki Jaksa.
“ Saya yakin di sini ada sumber air yang cukup, karena kesuburan sebuah tanah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sebuah air, mereka adalah sepasang sejoli.” Ki Bogor menjelaskan sambil berkelakar.
“ Ah … Ki Bogor bisa saja.” Ujar sesepuh menepuk bahu Ki Bogor, mereka berenam terkekeh ringan.
“ Kita sudah menemukan tanah yang cocok, tugas kita sekarang adalah menemukan sumber air.” Ucap Ki ganjar.

Mereka berenam melanjutkan perjalanan, mereka berjalan terus kearah Tenggara dari tempat mereka berkumpul meneliti tanah. Kurang lebih setengah jam lamanya pencarian akhirnya mereka menemukan sebuah mata air yang cukup besar. Air menyembur dari dalam tanah membentuk kubang seluas kira-kira dua belas meter persegi, dari kubangan tersebut air mengalir menganak sungai kearah barat. Kelima prajurit ditemani sesepuh menelusuri aliran sungai tersebut sambil membersihkan aliran sungai dari semak-semak, sampah dan endapan-endapan lumpur atau gundukan tanah yang menghalangi kelancaran aliran air sungai. Terlihat mereka bekerja begitu bersemangat sambil bernyanyi ringan sekenanya diselingi dengan gurauan-gurauan, samapi disuatu tempat aliran sungai. Itu terlihat aneh. Semestinya aliran besar mengalir searah dengan sungai lajimnya kea rah barat, akan tetapi ini malah sebaliknya sebagia besar aliran air itu berbelok kesebelah utara dan hanya sebagian kecil yang mengalir kearah barat, itula yantg merupaka suatu keanehan.
“Cai kasarung! “ seru sesepuh
“ Heran?”
“ Heran?” seru kelima prajurit mataram.
“Saya baru tahu bahwa du bukit ini ada cai kasarung. Harusnya sungai ini mengalir kearah barat, ini malah belok kea rah utara sedangkan air yang mengalir kea rah Barat justru sedikit ( cai leutik ), Sesepuh terdengar berguman ia tak bisa menyembunyikan keharanannya. Ternyata aliran air tidak terus mengalir mengalir ke Utara tapi melingkar kea rah Timur berlawanan dengan aliran sungai induknya ( cai kasarung ).

Sejak saat itu sungai itu disebut lebak Cikasarung sedangkan aliran sungai yang berbelok ke kanan lalu melingkar ke arah Timur disebut lebak eran – di ambil dari kata heran dan aliran sungai yang terus mengalir ke arah Barat disebut lebak cileutik.

Akhirnya ki Ganjar memutuskan bahwa ia akan membuka pesawahan di tempat pertama kali mereka meneliti tanah sedangkan ia akan menetap di sebrang ( peuntas ) sebelah Utara sawah garapannya tepatnya dipuncak bukit sebelah selatan Balaganjar.
Dengan tujuan agar ia dapat memantau kedatangan Belanda bila sewaktu – waktu ke Balaganjar. Di tempat Kiganjar memebuka pesawahan itulah berdiri balai Kelurahan Cikasarung sekarang ini sedangkan sawah yang digarap di seberangnya disebut swah peuntas.

Ki Jaksa membuat saung tempat tinggalnya di pinggiran Sungai Cikasarung agak ke hulu sebelah teenggara sawah garapan Ki Ganjar dengan tugas menjaga mata air kelak yang menjadi sumber air sungai Cikasarung. Sampai sekarang sawah garapannya itu disebut Sawah Jaksa.

Ki Putul berdiam tepat di belokan sungai Cikasarung, Eran dan Cileutik, ia bertugas mengolah tanah merah(beureum) di sekitarnya. Dan sawah garapannya disebut Sawah Keusik dan Sawah Beurem.

Sedangkan Ki Dukun ditugaskan untuk membuka huma-sawah tadah hujan agar jauh dari aliran sungai yaitu sebelah barat sawah peuntas. Di tempat tersebut Ki Dukun mulai ngabeubeura (membuka ladang) itulah terdapat sawah Bebera dan Bebera Kiai sekarang ini. Selain itu menemukan sungai kecil yang berhulu di rumpun bambu Tamiang, maka daerah itu dinamakan Lebak Tamiang. Adapun tempat ia membangun saung tempat tinggalnya disebut leuweung Aki Dukun, tepatnya saung itu didirikan cukup jauh dari ladang pertama yang ia buka sebelumnya.

Lain lagi dengan Ki Bogor ditempatkan diujung Barat Kelurahan Cikasarung saat ini lebih jauh dari Ki Dukun. Ki Bogor ditugaskan untuk membuka perkebunan di hutan tersebut seperti kebun singkong, talas, ganyong dan buah-buahan. Di samping berhuma hanya Ki Dukun selain itu Ki Bogor pun bertugas untuk menjaga dan memelihara pepohonan seperti jati, kihujan, jengjing, kihiang dan lain-lainnya yang berada di hutan tersebut. Di sebelah utara, ditempat tinggalnya ia menemukan sebuah mata air, Ki bogor pun membendungnnya sehingga menjadi sebuah sumur disebutlah mata air itu dengan sebutan sumur bendung, namun karena latahnya lidah orang-orang saat ini penduduk cikasarung menyebutnya sumur bandung dan Ki Bogor juga menemukan mata air yang keluar dari semak-semak pohon dadap maka diberi nama lah daerah sekitarnya dengan sebutan Cidadap.

Keahlian kelima prajurit mataram itu dalam hal bertani memang sangat mengagumkan sampai sekarang tempat-tempat tersebut menjadi lahan-lahan pertanian yang produktif di Kelurahan Cikasarung terutama sawah jaksa, sawah pentas, sawah kesik dan sawah balaganjar. Sedangkan daerah lingkungan sungai Cikasarung dengan sungai eran menjadi pusat Kelurahan Cikasarung.

Namun akhir dari keberadaan kelima prajurit mataram tersebut tidak diketahui dengan jelas ada yang beranggapan bahwa mereka ngahiang menghilang begitu saja tanpa bekas dikarenakan kesaktian mereka yang sangat tinggi ada juga yang beranggapan bahwa mereka pergi ke Batavia bergabung dengan pasukan mataram untuk berperang melawan penjajah Belanda. Untuk menghormati jasa-jasa mereka penduduk terus memelihara peninggalan-peninggalan mereka berupa sawah, ladang dan kebun dengan cara menggarapnya dengan baik, juga memelihara mata air-mata air dan saluran irigasi yang mereka buat. Umumnya masyarakat pedesaan mereka pun membuat peti patilasan-patilasan yang disebut buyut di atas saung-saung tempat ke lima prajurit Mataram tersebut menetap, seperti: Buyut Ganjar, Buyut Jaksa, Buyut Putul, Buyut Aki Dukun dan Buyut Bogor. Adapun tempat dikuburnya senjata-senjata pusaka mereka disebut buyut kramat dan tempat tinggal orang yang diberi tugas untuk menjaga setiap (saban) matahari tenggelam sampai matahari terbit disebut Buyut Saban.

Begitulah berita asal mula Kelurahan Cikasarung lazimnya sebuah legenda kebenaran ceritanya sangat sulit dibuktikan.

Kerajaan Sindangkasih di Majalengka, benarkah ada?
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah buku yang cukup menarik. Sebenarnya buku tersebut merupakan terbitan lama, sebaya dengan umur saya sekarang. Faktor keterbatasan dan ketidaktahuanlah yang menyebabkan saya baru bisa menemukan dan membaca buku tersebut setelah beberapa lama. Buku tersebut ditulis oleh seorang kelahiran Cirebon, sekitar tahun 1983. buku tersebut bercerita tentang sejarah Kerajaan Cerbon (buku tersebut menyebutnya demikian), terutama pasca Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah memimpin kerajaan tersebut.

Dalam buku Kerajaan Cerbon tersebut diceritakan beberapa hal yang mungkin menurut saya bisa merubah sejarah atau bahkan menghilangkan sama sekali Kerajaan Sindangkasih yang konon pernah ada di Majalengka.

Dari beberapa informasi yang saya dapat sebelumnya, bahwa pada zaman sebelum Islam masuk ke Majalengka, terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangkasih yang berada di daerah Sindangkasih, Majalengka dan dipimpin oleh ratu bernama Nyi Rambut Kasih. Entah benar atau tidak, yang jelas bila kita mengakses situs Bappeda-Majalengka maka akan diceritakan kisah keberadaan kerajaan tersebut, sama seperti yang saya terima selama 15 tahun terakhir. Ringkasnya keberadaan Kerajaan Sindangkasih tersebut lalu kalah oleh pengaruh Islam dari Kerajaan Cerbon.

Yang menjadi pertanyaan setelah saya membaca buku tersebut ialah, penulis yaitu Unang Sunardjo, S.H menyangkal bahwa Kerajaan Sindangkasih tersebut berada di daerah Majalengka, tetapi terletak di daerah yang namanya sama Sindangkasih di daerah Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Menurut buku tersebut, daerah Sindangkasih merupakan hadiah dari ayah Nhay Ambet Kasih (mungkin Nyi Rambut Kasih), yaitu Ki Gedeng Sedhang Kasih setelah Nhay Ambet Kasih menikah dengan Raden Pamanah Rasa, yang kelak dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Sindang Kasih tersebut tak lebih merupakan bagian dari Nagari Surantaka pimpinan Ki Gedeng Sedhang Kasih, yang merupakan pecahan dari daerah otonom di bawah Kerajaan Galuh yang bernama Wanagiri Besar. Karena sesuatu hal, Wanagiri Besar tersebut, menjadi pecah dan terbagi dalam beberapa nagari, termasuk Nagari Surantaka.

Tentunya patut ditelusuri kebenaran pendapat tersebut, karena saya pribadi merasa bahwa pelurusan sejarah merupakan hal penting. Meski telah beribu-ribu tahun ditelan masa, tetapi pelurusan sejarah menjadi perlu ketika kebutuhan untuk menyadari identitas diri menjadi sangat urgen.

Meski tidak sepenuhnya menyalahkan pendapat tersebut, tetapi bila ditanyakan argumen untuk mendukung kebenaran bahwa Kerajaan Sindangkasih memang benar-benar di daerah Majalengka, saya juga kebingungan untuk mencari bukti. Tidak ada patilasan atau dokumen-dokumen sejarah yang mendukung keberadaan Kerajaan Sindangkasih di Majalengka tersebut. Setidaknya sampai sekarang saya belum menemukan dan berhasil mengetahui sisa-sisa peradaban Kerajaan Sindangkasih di Majalengka. Lebih lanjut, buku tersebut hanya mengakui keberadaan Kerajaan Talaga Manggung (yang berpusat di Kec. Talaga sekarang), yang kemudian juga tertundukkan oleh Kerajaan Islam Cerbon. Di Majalengka sendiri, sepertinya pada waktu itu belum ada peradaban, karena tidak pernah disinggung sama sekali hubungan diplomatik atau sejenisnya dengan Kerajaan Cerbon. Kalaupun ada, hanya daerah Rajagaluh yang pernah disebutkan sebagai salah satu daerah ”sampingan” dari Kerajaan Cerbon.

Sehingga mana yang benar dan mana yang salah, belum dapat saya ketahui. Satu hal yang pasti, kita memerlukan argumen sejarah dan dokumen peninggalan yang tersisa untuk membuktikan bahwa memang pernah berdiri Kerajaan Sindangkasih di Majalengka. Tugas siapa?, tentunya kita semua untuk lebih mengenal cikal-bakal peradaban dan nenek moyang kita sendiri. Bersediakah kita?.

Asal Usul Sekitar Daerah Majalengka

25. SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA KECAMATAN LEMAHSUGIH

Sejak jaman penjajahan Belanda, Desa Lemahputih sudah menjadi pusat perekonomian di Majalengka dan wilayah priangan. Kegiatannya berupa perkebunan, yaitu kebun teh, kopi, dan kina. Perkebunan teh dan kopi lengkap dengan sarana pengolahannya, akibat penjajahan Jepang keadaan pabrik dan perkebunan rusak dan hancur.

Pada tahun 1952 Kecamatan Bantarujeg terdiri dari 24 desa dengan lokasi sangat berjauhan, atas prakarsa Bupati Nur Atma Dibrata dimekarkan menjadi kemantren Lemahsugih yang meliputi 10 desa antara lain Desa Lemahputih, Padarek, Kalapadua, Sadawangi, Kepuh, Cigaleuh, Cipasung, Bangbayang, Cibulan dan Desa Borogojol, dengan Ibu Kota Kecamatan di Lemahputih.

Ibu Kota sering menjadi sasaran serangan gerombolan DI/TII, atas kerjasama antara rakyat, pemuda, pamong desa, OKD, Polisi Pamong Praja, dan ABRI Batalion 309/ 11 April Kompi V Pandawa mengadakan pagar betis yang akhirnya dapat di tumpas pada tahun 1961/1962.

Bekas persembunyian DI/TII di Cigorowong pada tahun 1964 diadakan proyek pertanian Sunan Gunung Jati yang dilaksanakan oleh para Purnawirawan ABRI Kodam III Siliwangi yang selanjutnya menjadi lokasi translok sampai sekarang.
Berdasarkan atas keputusan Bupati Majalengka tanggal 16 Januari 1966 kemantren Lemahsugih diresmikan menjadi Kecamatan Lemahsugih dengan Ibu kota Kecamatan berkedudukan di Padarek. Dengan latar belakang sejarah dan pendirian Kemantren di Lemahputih pada tahun 1969 Ibu Kota Kecamatan dipindahkan kembali ke Lemahsugih.
“Lemahputih sama dengan tanah yang bersih“, “Lemahsugih sama dengan tanah yang kaya/subur“.

Dengan harapan bahwa dari tanah yang bersih akan melahirkan tanah yang kaya/subur.

26. LEGENDA BEBERAPA DAERAH DI DESA LOJIKOBONG

Tempat Menurut cerita beberapa nama di wilayah desa lojikobong ini ada cerita menarik yang berkaitan dengan nama tersebut, dalam hal ini penulis mencoba untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan adapun kebenarannya wallahu alam.

1. Asal mula Dukuh Malang Jati Dongkal dan Jati Nutug
Pada waktu itu sedang terjadi perang tanding dua ksatria yang berilmu kedigjayaan tinggi di salah satu daerah susukan yang sekarang bernama kadongdong, setelah sekian lama berperang tidak ada yang kalah ataupun menang, salah satu ksatria mencabut pohon jati yang sangat besar, lalu di lemparkan kearah lawannya dengan menggunakan seluruh kekuatannya, si lawan menghindari dan pohon jati itu melesat terbang kearah barat hingga akhirnya jatuh di desa Lojikobong dengan posisi membujur. menurut sesepuh desa daerah tempat jatuh nya akar di sebut Jatidongkal berada daerah dukuh mencil (sekarang), adapun tempat dahan dan batang nya yang membujur / malang (basa sunda) hingga kini daerah tersebut bernama Dukuh malang, dan tempat jatuhnya pucuk pohon jati di beri nama Jati nutug karena jatuhnya nutug (nancap).

2. Dukuh Pabrik
Dukuh Pabrik atau Dusun minggu adalah sebuah blok yang terletak di sebelah barat daya desa Lojikobong, di beri nama dukuh pabrik konon ceritanya pada jaman belanda di daerah ini berdiri sebuah pabrik pencelupan benang / kain milik pemerintah Hindia belanda. Akhirnya hingga kini daerah ini bernama Dukuh pabrik walaupun pabrik tersebut sudah tidak ada.

3. Dukuh sinden dan Ki Ireng
Dukuh sinden atau blok rebo adalah wilayah desa Lojikobong yang ada di sebelah selatan. nama sinden di ambil dari kegemaran seorang istri demang yang suka melantunkan lagu lagu / kidung, dalam bahasa sunda di sebut nyinden. Maka daerah ini lebih akrab di sebut dukuh sinden.

Adapun daerah Ki Ireng menurut sesepuh, ceritanya adalah :
Pada waktu dulu ada seorang ageng yang menanam padi, ketika waktunya panen terjadi suatu keajaiban yang luar biasa, manakala batang padi itu di potong tumbuh lagi sehingga tidak habis habis, lama kelamaan ki ageng ini merasa kelelahan dan penasaran akhirnya oleh ki ageng sawah itu di bakar sehingga padinya hitam (ireng – b. jawa ) . maka sejak kejadian itu dareah tersebut hingga sekarang bernama Ki Ireng. Wallahu alam.

27. ASAL USUL DESA CIJATI

Asal-Usul Desa Cijati
Untuk mengetahui asal-usul Desa Cijati, sangat erat kaitannya dengan kehadiran Embah Haji Siti Fatimah yang menjadi nenek moyang penduduk desa ini.
Kehadiran beliau di suatu tempat yang sekarang bernama Desa Cijati, menurut cerita orang-orang tua, kira-kira pada tahun 1690-an (Abad Ke-XVII). Beliau adalah berasal dari Demak keturunan kasepuhan dari Raden Fatah Sultan Demak. Untuk lebih jelasnya tercatat silsilah beliau sebagai berikut : (10) Siti Fatimah adalah putri (9) Nyi Langgeng Lanyi, putri (8) Pangeran Marta Singa, putra (8) Kiai Nanya Kerti, putra (4) Pangeran Waragil, putra (3) Sunan Prawoto, putra (2) Pangeran Trenggono, putra (Sultan Abdul Fatah (Raden Fatah) Sultan Demak.
Sebab musabab kehadiran Embah Haji Siti Fatimah di tempat ini ada dua variasi carita orang tua :
1. Beliau mengikuti suaminya yang bernama Embah Abdul Kodir putra Embah Abdul Muhyi Pamijahan Tasik Malaya. Mereka membuka pesantren dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di suatu tempat di pinggir kali Cideres yang diberi nama Cijati.
2. Beliau berangkat dari lingkungan keraton di Demak, untuk mencari obat guna menyembuhkan penyakit kulit yang telah lama di deritanya. Penyakit itu sangat berat, belum ada seorang tabib pun yang dapat mengobatinya. Karena sudah sangat merasa kesal menderita penyakit itu, beliau bertafakur di kamarnya untuk memohon petunjuk kepada Tuhan tentang obat yang akan dapat menyembuhkan penyakitnya. Setelah beberapa lama tafakur itu dilaksanakan konon pada malam keempat puluh kebetulan malam jum’at, beliau mendapat ilapat berupa suara tanpa rupa yang menyuruh beliau agar keluar dari rumah. Di luar beliau melihat cahaya yang memancar ke langit di arah sebelah barat. Suara tanpa rupa itu menyuruh Fatimah agar mengikuti cahaya itu. Dan apabila beliau sampai di suatu tempat dan cahaya itu menghilang, di tempat itulah akan ditemukan obat penyembuh penyakitnya itu. Maka diikutinyalah petunjuk gaib itu. Ketika beliau sampai di suatu tempat di pinggir sebuah kali, hilanglah cahaya itu. Dan berhentilah Fatimah di tempat itu sesuai dengan petunjuk suara gaib dari bawah pohon-pohon jati yang besar-besar. Pada saat itu tempat tersebut masih merupakan hutan lebat. Beliau tertarik oleh air yang jernih pada itu ingin mandi untuk membersihkan diri badannya dan berwudhu. Betapa beliau tercengang ketika selesai mandi karena penyakitnya jadi sembuh dan kulitnya menjadi bersih. Air yang mujarab dan keluar dari pohon jati itu dinamainya Cai Jati (Cijati), yang kemudian menjadi nama kampung dan desa ini sampai sekarang. Adapun sumur yang berkhasiat itu dinamainya sumur Cikalamayan. Sampai sekarang sumur itu masih dianggap keramat.

II. Perkembangan tempat yang bernama Cijati menjadi Desa Cijati
Setelah Fatimah sembuh dari penyakitnya yang sangat menjengkelkan itu dan mengasingkan dirinya dari keramaian keraton, berkat khasiat cai jati dari sumur Cikalamayan itu, beliau berniat membenci kehidupan keraton yang penuh kemewahan tetapi mengekang dan membosankan. Itulah sebabnya beliau tidak senang mendengar bunyi gamelan yang biasa dibunyikan untuk menyemarakkan suasana keraton, dan melarang anak-cucunya membunyikannya. Siapa yang berani melanggarnya akan menanggung akibatnya.

Pada suatu hari singgahlah di pondok Fatimah seorang pemuda yang sedang berkelana berasal dari daerah Tasik Malaya yang bernama Abdul Kodir putra Embah Abdul Muhyi Pamijahan. Melihat keelokan rupa Fatimah, tertariklah hati Abdul Kodir kepadanya. Demikian pula Fatimah terhadap pemuda yang bernama Abdul Kodir.
Terungkap sebuah cerita menarik dalam kisah perkenalan Abdul Kodir dengan Fatimah. Untuk saling menjajagi ketinggian ilmu diantara mereka, Abdul Kodir meminta bara api kepada Fatimah untuk mengisap rokoknya. Disodorkanlah oleh Fatimah bara api itu kepada Abdul Kodir. Bara api itu di letakkan pada selendangnya, namun selendang tersebut tidak terbakar. Melihat kejadian itu tercenganglah Abdul kodir, dan diapun jadi tahu bahwa Fatimah itu adalah seorang gadis yang tinggi ilmunya. Kemudian Abdul Kodir pun segera mengambil bara api itu dari selendang gadis itu dengan tangannya sendiri. Tampak Abdul Kodir tidak merasa panas sedikitpun dan tangannya tidak terluka kena bara api itu. Dengan demikian tahulah Fatimah bahwa pemuda itu memiliki kesaktian dan ilmu yang tinggi. Setelah saling mengetahui kesaktian diantara mereka, terjalinlah rasa saling mencintai diantara mereka. Dan akhirnya atas kesepakatan mereka dan kesepakatan orang tua kedua belah pihak, mereka menikah untuk membangun rumah tangga yang tentram.

Setelah melangsungkan pernikahan, mereka mendirikan sebuah pesantren yang santri-santrinya berdatangan dari mana-mana. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua orang puteri, yaitu :
1. Nyi Soiman, dipanggil demikian karena ditikah oleh seorang yang bersama Soiman putera Embah Salamudin dari Babakan Jawa.
2. Nyi Da’i
Dari Nyi Soiman itulah Embah Haji Siti Fatimah menurunkan anak cucunya yang menjadi inti penduduk Desa Cijati dan menjadi penerus perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam melalui pendidikan Pondok Pesantren sampai sekarang.
Kesinambungan pesantren di Desa Cijati adalah berkat kesinambungan para pengasuhnya (para Kiayinya). Setelah Embah Abdul Kodir wafat di Tasikmalaya dan di makamkan di Desa Sukapancar kabupaten Tasikmalaya, pimpinan pondok pesatren di teruskan oleh menantunya yang bernama Kyai Soiman. Kemudian dilanjutkan oleh menantu Kiayi Soiman yang bernama Kyai Nurhisyam suami Nyi Ajid salah seorang puteri kyai Soiman. Beliau dari Situraja Sumedang datang ke Cijati untuk menuntut ilmu agama (mesantren) di Kyai Soiman yang kemudian dipungut menjadi menantunya. Setelah Embah Burhisyam wafat, pimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Irfa’i. Selanjutnya pengasuh pesantren disambung oleh Kyai Abdullah putera Kyai Irfa’i. Kyai Abdulloh wafat, pimpinan pesantren dilanjutkan oleh k.H. Muhammad Alwi suami Ibu Siti Hafsoh puteri Kyai Abdullah. Selanjutnya putera diasuh oleh putera K.H. Muhammad Alwi satu-satunya yang bernama K.H. Mahfudz. Kini pondok pesantren di Desa Cijati di kelola sekarang terkenal dengan sebagai desa santri (Pesantren).
Demikianlah perkembangan Cijati yang asalnya merupakan hutan lebat menjadi sebuah kampung dan kemudian menjadi sebuah desa yang kini berpenduduk sebanyak 5.000 jiwa. Cijati mulai ditetapkan menjadi desa pada zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1820 M. Kuwunya yang pertama bernama Embah Ngabeui Tirta Saestu.
III. Perkembangan Kehidupan Rakyat
Mengenai perkembangan kehidupan rakyat Desa Cijati dari masa ke masa tidak terdapat penonjolan-penonjolan yang menyolok tetapi tidak pula terlalu ketinggalan oleh desa-desa lain.

a. Perkembangan Bidang Ekonomi
Mula-mula rakyat Cijati hidup dari pertanian. Setelah penduduknya makin berkembang, sedangkan tanah lahan pertanian relatif tidak bertambah, mulailah mereka mencari mata pencaharian lain seperti bidang kerajinan, mencelup pakaian dengan nila yang dibuat dari pohon tarum pada zaman penjajahn Belanda dan Jepang. Waktu itu pakaian adat dibuat sendiri yang dibuat dari sekat kapas yang juga ditanam sendiri. Bekerja sebagai penjahit pakaian, kadang-kadang langsung menjualnya ke pasar. Para pengusaha penjahit jadi sampai sekarang terus berkembang. Sayang para penjahit pakaian sekarang hampir punah karena harga pakaian jadi di pasaran lebih murah daripada buatan sendiri. Sekarang sudah banyak pula yang menyelenggarakan industri kecil di rumah-rumah seperti membuat kecap, tahu, rajinan dan lain-lain.

b. Perkembangan Bidang Sosial
Dalam bidang sosial sejak dulu sudah terbina dengan baik, terutama dalam hal kegotong royongan, baik dalam peristiwa kematian, hajatan maupun membangun rumah. Tolong menolong antar sesama sangat rampak dengan tumbuhnya kelompok arisan, perkumpulan-kumpulan di tiapblok yang menyediakan alat keperluan untuk hajatan seperti piring, sendok, gelas, alat memasak, kursi, belandongan dan lain-lain.

c. Perkembangan Bidang Kebudayaan
1. Bidang Pendidikan
Mengenai kemajuan bidang pendidikan agama sudah tidak diragukan lagi, karena berdirinya desa Cijati berpangkal dari berdirinya pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam dan terus berkesinambungan sampai sekarang. Pelajaran Agama disampaikan hampir di tiap langgar (tajug). Kini semakin berkembang lagi dengan telah berdirinya Madrasah Diniyah Awaliyah sejak sejak tahun 1964, disusul dengan berdirinya Yayasan Darul Falah pada tahun 1983 dan sekarang telah didirikan pula Madrasah Aliyah pada tahun 1987.
Dalam bidang pendidikan umum telah berdiri sekolah dasar 3 tahun sejak tahun 1913. sekarang telah berdiri tiga buah sekolah dasar Negeri 3 tahun yang dapat menampung semua anak usia sekolah. Pendidikan umum tingkat menegah pertama pun sudah ada, yaitu SLTPN 4 Majalengka dekat kampung Cijati. Begitu juga pendidikan umum tingkat atas telah berdiri yaitu SMU PGRI 1 Majalengka di Cijati.
2. Bidang Kesenian
Dalam bidang kesenian sejak dulu di desa Cijati belum ada yang menonjol, yang terkenal ke luar daerah.
3. Bidang Olah Raga
Olahraga yang paling disenangi masyarakat adalah sepak bola. Olahraga lain yang disenangi masyarakat adalah Volly ball, hampir di setiap blok ada lapangan Volly ball beserta klubnya.

IV. Pantangan atau Tabu
Ada dua hal yang dianggap tabu (pantangan) yang masih di pegang teguh oleh sebagian besar penduduk Desa Cijati.

1. Kesenian menggunakan alat-alat gamelan
Kesenian yang menggunakan alat-alat gamelan seperti wayang baik wayang kulit maupun wayang golek yang lengkap dengan nagayannya. Fatimah apabila mendengar suara gamelan hatinya merasa risih pedih serasa tersayat sembilu. Karena itulah beliau melarang anak cucunya menyelenggarakan hiburan yang menggunakan gamelan secara lengkap. Barang siapa yang berani melanggarnya dia harus menganggung akibatnya.

2. Memiliki atau memelihara kuda yang berbulu hitam
Asal-usul penduduk Cijati dilarang memiliki atau memilihara kuda berwarna hitam adalah sebagai berikut :
konon kabarnya Embah Haji Siti Fatimah itu ketika mudanya memiliki rambut yang panjang, bila terurai akan sampai ke tanah. Bila beliau menyisir rambutnya setelah keramas, harus menggunakan gelah sebagai penyangganya agar tidak terurai ke tanah.
Pada suatu hari ketika Embah Haji Siti Fatimah sedang menyisir rambutnya, tiba-tiba kuda peliharaannya yang berwarna hitam keluar dari kandangnya dan berlari-lari kesana-kemari, hingga menabrak galah penahan rambutnya tersebut, sehingga rambutnya menjadi kusut sukar dibereskan lagi. Karena marahnya keluarlah ucapan sumpah dari mulutnya yang berbunyi :
“Sumpah tujuh turunan kepada anak cucu janganlah memelihara kuda yang berwarna hitam”.
Dua macam tebu diatas masih di pegang teguh oleh sebagian besar orang Cijati terutama keturunan Embah Haji. Yang berani melanggarnya biasanya ada saja diakibatkan jelek. Apakah hal itu menunjukkan bahwa tebu itu memang masih benar-benar angker ataukah hanya karena sugenti psykologis belaka? Wallahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Asal Usul Sekitar Daerah Majalengka

21. ASAL USUL KERTABASUKI

A. Riwayat Desa Kertabasuki
Dimana bangsa Indonesia di jajah oleh bangsa Belenda yang pertama, para pejuang dari Banten banyak sekali yang dating melatikan diri dating ke Majalengka.
Konon kabarnya, pada waktu itu datanglah esorang pejuang dari Banten yang bernama K.H. Tubagus Bunyamin bersama Sultan Tubagus Zaenal Asyikin ( salah seorang keturunan Sultan Hasanudin yang ke-7 dan atau keturunan Nabi Muhamad SAW yang ke-35) datang kesalah satu tempat di daerah Majalengka tempat tersebut sekarang bernama desa Kawunggirang.

K.H. Tubagus bunyanmin dating ke tempat tersebut selain menjauhkan diri dari incaran pemerintah Belanda, beliau juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam, yang pada waktu itu di tempat tersebut penghuninya masih kurang dalam melaksanakan syriat Islam.Dan supaya jangan sampai tertangkap oleh pemerintah Belanda, beliau bergati nama ngan julukan K.H Tubagus Kacung.

K.H. Tubagus Kacung menikah dengan salah seorang putri Kiayi Sayun Falah seorang penghuni tempat tersebut sebagai hasil pernikahannya beliau di karuniai seorang anak yang di beri nama Tubagus Sholeh.

Tubagus Sholeh setelah dewasa dan berumah tangga, kemudian beliau membuka pasantren di salah satu tempat sebelah barat desa Kawunggirang. Letak tempat desa (pasantren) yaitu sebelah barat desa Pasantren (sekarang wilayah desa Kertabasuki).Beliau mempunyai 3 orang putra putri, 2 orang putra di beri nama Munara dan Munari serta seorang putri yang di beri nama Munirah.

Selain di buka pesantren di tempat tersebut, tempat yang tadinya sepi dan kurang maju berubah menjadi salah satu tempat subur makmur serta tempat tersebut harum namanya sampai terdengar ke daerah lain.

Konon kabarnya, keharuman tempat tersebut terdengar oleh penghuni kota Cirebon. Salah satunya adalah K.H. Abu Bakar putra Den Nayu Kamiran, cucu Syarif Hidayatullah. Keduanya dating ke pesantren itun sambil membawa rupa-rupa dagangan. Beliau mempunyai magsud tujuan pokok yaitu ingin membantu usaha yang sedang dirintis oleh Tubagus Sholeh agar menjadi lebih pesat dan majunya agama Islam.
Lama kelamaan K.H. Abu Bakar dijadikan menantu oleh K.H Tubagus Sholeh dan di tikahkan dengan putri yang bungsu yang bernama Siti Munirah.

Setelah K.H. Abu Bakar berumah tangga dengan Siti Tibagus Munirah, situasi tempat tersebut semakin ramai, maju, subur, makmur serta penghuninya selalu penuh terjamin kesehatannya. Di saat itulah K.H. Tubagus Sholeh mengatur, tata cara pemerintahan dan tatanan kehidupan seluruh penghuninya secara bijaksana. Dan akhirnya tempat tersebut di beri nama KARTABASUKI. Adapun arti dari Kartabasuki, yaitu :
-Karta :damai, maju, subur makmur
-Basuki :sehat wal afiat
-Kertabasuki :Desa yang damai serta maju dan subur makmur serta penghuninya terjain kesehatannya
Tetapi sekarang, desa kertabasuki lebih di kenal dengan sebutan Kertabasuki.
H.Abu bakar mempunyai 8 orang anak, 3 orana perempuan dan 5 orang anak laki-laki dengan urutan yaitu :
1. Jenab 5. Praja
2. Mujenah 6. Abdul Syukur
3. Biah 7. Sujana
4. Asral 8. Kalektor

22. ASAL USUL SINGKAT KOTA MAJA

Kira-kira abad ke XVI masehi, dikenal kuburan disebelah selatan kota Maja sekarang, telah berdiri sebuah pesantren bernama “PESANTREN DAHU PUGUR” yang berbentuk perkampungan kecil, yang terletak di dekat kali Cilongkrang.
Pesantren tersebut dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Syekh Absul Jalil yang berasal dari Cirebon bersama dengan seorang temannya yang bernama Bapak Kelindur.
Syekh Abdul Jalil kemudian berganti nama dengan julukan “Dalem Sukahurang” . Pada beliau sedang bersama bapak Kelindurmembangun pesantren Dahu Pugur, beliau sangat perihatin karena banyak rintangan dan gangguan yang tidak diketahui siapa dan dari mana pengganggunya. Maka Dalem Sukahurang bertapa diatas pohon Dahu sehingga bagian atas pohon itu “patah” atau “pugur”. Itulah sebabnya pondok pesantren ini diberi nama “DAHU PUGUR”.

Ditinjau dari segi geografis letak pesantren itu sangat strategis sekali karena di pinggir pesantren mengalir air Cilongkrangyang dikelilingi bukit-bukit yang subur dilereng Gunung Ciremai. Hal ini menjadikan penghuni pesantren menjadi betah karena bisa bercocok tanam sepanjang tahun.
Berkat kealiman Dalem Sukahurang dalam memimpin pesantren serta keuletan beliau, maka dalm waktu yang relatip singkat nama pesantren Dahu Pugur sudah terkenal diluar daerah Maja. Sehingga banyak orang orang dari luar daerah berdatangan untuk menuntut ilmu di pesantren tersebut, terutama dari daerah Talaga yang pada waktu itu Talaga baru masuk islam.

Pada waktu itu Sunan Talagamanggung mendengar bahwa pesantren Dahu Pugur sangat termashur, maka untuk membuktikannya Sunan Talagamanggung memerintah seseorang putranya yang bernama RadenMahmud Ridwan.

Raden Mahmud Ridwaan datang di Pesantren Dahu Pugur, disambut dengan baik oleh Dalem Sukahurang dan para santrinya. Sampai di pesantren Dahu Pugur, Raden Mahmud Ridwan mengadakan rundingan dengan pemimpin pesantren tersebut, untuk membentuk pemerintahan baru yang dipimping oleh Raden Mahmud Ridwan, dan para ponggawanya dari Talagamanggung. Waktu Rden Mahmud Ridwan menjadi pemimpin Dahu Pugur, Aji Sanghiang Rangkah mengadakan seranagan terhadap pesantren Dahu Pugur kemudian pesantren Dahu Pugur mengadakan perlawanan terhadap serangan dari Aji Sanghiang Rangkah tadi dengan senjatanya yang diberi nama Salam Nunggal.

Sekarang pemimpin Dahu Pugur itu Raden Kiswan, Maka pada waktu itu dia dipilih secara aklamasi untuk dijadikan patih Dalem Sukahurang. Kemudian ia diberi gelar Raden Aria Patih Dalem Cucuk. Berkat kemenangan Raden Kiswan di Dewan Penasehat Pemerintah yang baru di Maja. Yang kemudian Dalem Sukahurang membuat susunan pemerintahan dan menyepakatinya, serta pemerintah yang baru itu duberi nama “MAJA JAYA” sebagai lambang kemenangan Dahu Pugur.

Dalam perkembangan selanjutnya karena bertambahnya jumlah penduduk Deasa Maja, sesuai dengan roda perkembangan zaman dan peraturan pemerintahan pada waktu itu, maka sejak tahun 1981 Desa Maja dipecah menjadi dua Desa yaitu dengan Desa Maja Utara yang dipimpin oleh kepala desa Bapak Djalil ,Maja Selatan yang dipimpin oleh Kepala Desa Bapak Otong Rukmita. Padapemilihan Kepala desa Maja Utara yang pertama pada tahun 1984, terpilih yang menjadi Kepala Desanya yaitu Bapak ARUJI PRIATNA.

23. ASAL USUL KOTA TALAGA

Berdirinya Kerajaan Talagamanggung

Nun jauh di lereng Gunung Ciremay sebelah selatan, di sekitar Desa Sangiang Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, berdiri satu Negara yang disebut dengan Kerajaan Kerajaan Talaga. Yang pertama-tama mendirikan dan mengolah Negara tersebut yaitu Batara Gunung Picung, putera keenam Ratu Galuh Ajar Sukaresi atau disebut juga Maharaja Sakti Adimulya (1252 � 1287 M).

Adapun Ratu Galuh Ajar Sukaresi sendiri mempunyai delapan putera/puteri dari isteri beliau yang berlain-lainan. Nama-nama mereka itu adalah:
1. Prabu Hariangbanga: Menurunkan para raja di daerah Jawa Timur, seperti Prabu Brawijaya II sampai Prabu Brawijaya V;
2. Maharajasakti: Menurunkan para raja di tanah Pajawan;
3. Prabu Ciungwanara (1287 � 1303 M): Menurunkan para raja di Pakuan dan Pajajaran;
4. Ratu Ragedangan;
5. Prabu Haurkuning, Maharaja Ciptapermana I (1580 � 1595 M);
6. Batara Gunung Picung (1595 � 1618); Menurunkan Raja-Raja Talaga;
7. Ratu Permana Dewa; dan
8. Bleg Tamblek Raja Kuningan.

Adapun Batara Gunung Picung (Ciptaperman II) beliaulah yang menjadi Raja pertama di Talaga (Talagamanggung), dari beliau itu pula menurunkan:
1. Sunan Cungkilak;
2. Sunan Benda;
3. Sunan Gombang;
4. Ratu Ponggang Sang Romahiyang; dan
5. Prabu Darmasuci I.

Prabu Darmasuci I
Prabu Darmasuci I mempunyai dua orang putera yang akan melanjutkan silsilah Kerajaan Talaga pada masa berikutnya, dua orang putera beliau itu adalah:
1. Bagawan Garasiang; dan
2. Prabu Darmasuci I (Prabu Talagamanggung).

Bagawan Garasiang
Putera sulung Prabu Darmasuci I adalah Begawan Garasiang, beliau adalah orang yang gemar bertapa dan merenung sehingga beliau menjadi seorang Begawan Hindu Kahiyangan. Ia mendirikan padepokan di satu gunung kecil yang disebut Pasir Garasiang, terletak di daerah perbatasan antara Kecamatan Argapura dan Talaga sekarang. Beliau mempunyai puteri yang bernama Ratu Putri Mayangkaruna, yang kemudian diperistri oleh Prabu Mundingsari Ageung, putera Prabu Siliwangi II (Raden Pamanah Rasa)[2] dari Pajajaran.

Kalau kita perhatikan, dengan adanya pernikahan Putri Talaga dan Putra Pajajaran, ini adalah hukum yang tidak tertulis akan tetapi menjadi ciri khas langkah strategis dan politis raja-raja Pasundan untuk mempertahankan keutuhan Negara dan ikatan kekeluargaan melaui jalan pernikahan di antara para penguasa wilayah Pasundan. Dengan memperhatikan asfek-asfek penting inilah sikap silih asih, silih asah, silih asuh akan terekat kuat.
Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung)
Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung) bersemayam di Talaga, keraton beliau terletak di Sangiang, dengan panorama situ keraton yang indah yang disebut Situ Sangiang. Menurut catur para sepuh Talagamanggung adalah seorang Narpati yang sakti mandraguna dan weduk (tidak tembus senjata). Beliau mempunyai sebuah senjata pusaka yang diberi nama CIS, bentuknya seperti tombak kecil atau sekin. Konon, bahwa beliau ketika lahir tidak memiliki pusar seperti halnya orang pada umumnya. Menurut ceritera pula Prabu Talagamanggung hanya mempan ditembus senjata oleh senjata CIS-nya itu.

Pada masa pemerintahan Prabu Talagamanggung Kerajaan Talaga mengalami kemajuan yang gilang-gemilang dan kondisi sosial masyarakatnya semakian tentram dan mapan. Dengan demikian banyak orang yang berasal dari negara dan daerah lain ikut menetap di Talaga.

Prabu Talagamanggung mempunyai seorang menantu yang berasal dari Bangsawan Palembang yang bernama Palembangunung (suami Putri Dewi Simbarkancana), pada suatu kesempatan Palembanggunung mengadakan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari mertuanya. Akhirnya Palembanggunung dengan komplotannya, melalui oleh seorang pengawal pribadi Sang Prabu, Centrangbarang (yang ditugaskan mengurus senjata) ia berhasil mencuri senjata CIS tersebut dan memberikannya kepada Palembanggunung yang kemudian digunakan untuk menusuk tubuh Sang Prabu. Dalam peristiwa itu Prabu Talagamanggung terluka dan kemudian tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya meninggal. Jenazah beliau diurus sesuai ajaran Agama Hindu Kahiyangan, abu jenazahnya di larung di Situ Sangiang[3].

Pada masa hidupnya, Prabu Talagamanggung mempunyai satu orang putera dan satu orang puteri; Raden Panglurah dan Raden Dewi Simbarkancana.

Raden Panglurah
Dari usia kecil ia sudah rajin melatih diri, berangkat ke Gunung Bitung[4], beliau bertapa di bekas bertapa uyut beliau, Ratu Ponggang Sang Romahiyang. Raden Panglurah[5] adalah seorang sosok putera penguasa (raja) yang memiliki sifat-sifat zuhud, meninggalkan kesenangan dunia) dan lebih memilih untuk mengolah jiwa dan mengembangkan asfek-asfek spiritual yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dalam kata lain Radan Panglurah lebih memilih ketentraman dan kesenangan runani serta penghambaan kepada Tuhan Semesta alam.

Raden Dewi Simbarkancana
Raden Dewi Simbarkancana walaupun seorang puteri beliau banyak memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang diwarisi ayahanda beliau, Prabu Talagamanggung. Beliau menikah dengan Palembanggunung, Pepatih kerajaan. Pada mulanya Dewi Simbarkancana tidak mengetahui bahwa kematian ayahanda beliau itu didalangi suaminya sendiri, akan tetapi sabuni-bunina mungkus tarasi lambat laun kebusukan sang suami diketahui juga oleh beliau. Sepeninggal Prabu Talagamanggung, Kerajaan Talaga untuk sementara waktu dikuasai oleh Palembanggunung.

Dewi Simbarkancana merasa sangat terpukul, beliau ceurik balilihan[6] (menangis dengan sangat menderita batin) karena dua hal: pertama, karena beliau dihianati oleh suami beliau sendiri; yang kedua, karena ditinggal oleh ayahanda tercinta dengan peristiwa yang memilukan. Menurut beliau, siapa orangnya yang tidak berduka hati ketika ditinggal sang ayah. Ayahanda beliau, sesorang yang sudah berbuat baik mengangkat derajat Palembanggunung dibalas dengan perilaku yang sangat keji. Air susu dibalas air tuba itulah yang terjadi. Akhirnya dengan keberanian beliau, Dewi Simbarkancana berhasil membunuh Palembanggunung dengan susuk kondenya.
Selanjutnya Raden Dewi Simbarkancana menikah dengan Raden Kusumalaya (Raden Palinggih) dari keraton Galuh, putera dari Prabu Ningrat Kancana. Beliau adalah seorang yang masagi pangarti (cakap lahir batin), seorang tabib dan ahli strategi. Beliau berhasil menumpas tuntas gerakan bawah tanah Palembanggunung dan komplotannya, dengan demikian kekuasaan dapat diambil kembali, keamanan dan ketertiban negara kembali menjadi stabil dan kokoh.

Dari pernikahan Dewi Simbarkancana dengan Raden Kusumalaya membuahkan delapan orang putera, yaitu:
1. Sunan Parung (Batara Sukawayana);
2. Sunan Cihaur, (Mangkurat Mangkureja);
3. Sunan Gunung Bungbulang;
4. Sunan Cengal (Kerok Batok);[7]
5. Sunan Jero Kaso;
6. Sunan Kuntul Putih;
7. Sunan Ciburang; dan
8. Sunan Tegalcau.[8]

Perpindahan Pertama Pusat Kerajaan (ke Walangsuji)
Menyusul kekacauan yang menimpa keraton Sangiang, yakni dengan adanya rajapati terhadap Prabu Talagamanggung dan pemberontakan yang didalangi sang menantu durhaka, hal ini mendorong Ratu Simbarkancana untuk memindahkan pusat kerajaan dari tutugan Gunung Ciremay ke Walangsuji, di Desa Kagok, Kemantren Banjaran, Kecamatan Talaga sekarang.

Pusat pemerintahan di Walangsuji nampaknya tidak begitu lama, boleh dikatakan hanya selama ngulub waluh. yakni pusat kerajaan hanya bertahan di Walangsuji selama tujuh tahun tiga bulan[9]. Setelah Penguasa Talaga memandang dari berbagai segi akhirnya diputuskanlah bahwa Walangsuji kurang strategis untuk tetap dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Talaga sehingga pusat karajaan harus segera dipindahkan kembali.

Perpindahan KEDUA Pusat Kerajaan (ke Parung)

Sepeninggal Ratu Simbarkancana, Kerajaan Talaga dipegang oleh putera sulung beliau yang mendapat julukan Sunan Parung (1450 M). Setelah Sunan Parung mangkat, pemerintahan diserahkan kepada satu-satunya puteri beliau yang bernama Ratu Dewi Sunyalarang (1500 M) yang di kemudian hari mendapat julukan Ratu Parung.

Dewi Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ragamantri, putera Prabu Mundingsari Ageung dari Ratu Mayangkaruna. Raden Ragamantri adalah cucu dari Begawan Garasiang dan juga cucu dari Prabu Siliwangi II (Jaya Dewata atau Pamanah Rasa). Pada masa pemerintahan Dewi Sunyalarang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke Parung. (Bersambung ke: Sejarah Ringkas Kerajaan Talaga Setelah Masuknya Islam)
[1] Letak kuburan Raden Raga Mantri, cucu Bagawan Garasiang dan Raden Pamanah Rasa terletak di luar bangunan yang biasa dipakai tahlilan para penziarah, di bawah pohon besar dengan tiga buah batu biasa sebagai batu nisannya, sesuai pesan spiritual beliau. Peletakan batu nisan penulis lakukan dibantu oleh kuncen situs, Bapak H. Emod dan sahabat penulis Suharto.

[2] Kata Siliwangi berasal dari kata Silih yang berarti pengganti atau penerus dan Wangi yang berarti wangi atau harum. Dengan demikian, makna dari nama Prabu Siliwangi mempunyai pengertian bahwa beliau adalah Pengganti atau Penerus Prabu Wangi (Wangisutah) yang gugur di alun-alun Bubat Majapahit (sekarang terletak di Kec.Trowulan Kab.Mojokerto) pada tahun 1357 M dalam mempertahankan kehormatan dan wibawa Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, rombongan dari Pajajaran bermaksud untuk mengawinkan puteri beliau Putri Diyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk atas pinangan Sang Raja. Ketika itu rombongan calon penganten perempuan berhenti dan membuat pasangrahan di alun-alun Bubat sambil menunggu jemputan Raja Hayam Wuruk (calon penganten laki-laki). Rupanya niat mulia Prabu Wangi (Wangisutah) dan Raja Hayam Wuruk tidak dikehendaki oleh Patih Gajah Mada, ia mengadakan "gerakan rahasia" yang tidak diketahui oleh rajanya sendiri. Gajah Mada dengan pasukannya yang sangat besar mengepung dan menyerbu rombongan calon pengantin perempuan sehingga menyebabkan gugurnya Sang Mokteng Bubat (Prabu Wangi), Putri Diyah Pitaloka dan para pengawalnya. Adapun sebutan Prabu Siliwangi I adalah Prabu Wastu Kencana yang memindahkan pusat Kerajaan Pajajaran dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan (Bogor). Pada masa pemerintahan Prabu Wangi, Prabu Siliwangi I dan Prabu Siliwangi II Kerajaan Pajajaran dibawah satu kekuasaan atau dalam kata lain Pasundan Timur dan Pasundan Barat bersatu di bawah satu Raja. Pasca Rahiyang Wastu Kencana, Kerajaan Pasundan terbagi dua; yakni Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Ciamis dibawah kekuasaan Ningrat Kancana dan Kerajaan Pakuan yang berpusat di Bogor di bawah kekuasaan Prabu Susuktunggal. Pada masa Prabu Siliwangi II itulah Pasundan bersatu lagi menjadi Pakuan Pajajaran yang berpusat di Bogor.

[3] Menurut Babad Talaga, setelah peristiwa pembunuhan itu Prabu Talagamanggung beserta keratonnya ngahiyang (menghilang) dan menjadi Situ Sangiang sekarang. Menurut penulis sendiri, arti "ngahyiang" itu tidak lain melainkan Inna lillahi rājiūn wa inna ilahi rājiūn dalam arti Kembali Ke Sang Hiyang (Tuhan) dan bukan tilem.

[4] Gunung Bitung tepatnya sebelah selatan Talaga, Desa Wangkelang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majelangka. Tempat pertapaan Raden Panglurah sampai sekarang sering diziarahi orang.

[5] Penulis merasa prihatin karena Patung Raden Panglurah hingga sekarang masih berada di negeri Belanda, adapaun patung adik beliau Bunda Raden Dewi Simbarkancana masih ada dan terawat baik di Talaga.

[6] Istilah ceurik balilihan dan makna beberapa kata berikutnya adalah dari Bunda Dewi Simbarkancana sendiri, diberitahukan beliau kepada penulis secara spriritual pada tanggal 28 Januari 2008, kira-kira pukul 20.45 WIB.
[7] Petilasannya masih terdapat di Desa Cengal, kira-kira 1 km Kampung Cadas, Desa Anggrawati, Kecamatan Maja-Majalengka.

[8] Petilasannya terdapat di Blok Galumpit (Tegal Cawet) Desa Tegalsari-Maja.

[9] Angka 7 tahun 3 bulan ini berdasarkan keterangan Bunda Ratu Simbarkancana, pada tanggal 27 Januari 2008 yang disampaikan secara spiritual kepada penulis.

24. LAHIRNYA MAJALENGKA DAN MISTIK NYAI RAMBUT KASIH

Siapa yang tak kenal raja pajajaran ini? Dilah sosok yang adil dan bijaksana, juga sakti mandraguna, raja yang paling disegani di tanah jawa, khususnya di tatar Pasunda. Siapakah dia? Dialah Sri Braduga Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, namanya Ibu Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan mereka dianugrahi tiga orang putra dan satu orang putri, yaitu : 1. Walang Sungsang, 2. RaraSantang, 3. KianSantang, 4. Syeh Nurjati. Putra nomor empat yaitu Syeh Nurjati memperistri Ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil buah perkawinannya dikaruniai dua orang putra dan satu orang putrid, yaitu : 1.Dalem Rangga Wulan Jaya Hadi Kusuma, 2.Permana Sakti Jaya Hadi Kusuma, 3.Sri Ratu Purbaningsih.

Abad ke 14 atau tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk memberikan tugas. “Kalian semua harus mempunyai dan membuat sejarah (riwayat) agar kelak kemudian hari cikal bakal serta generasi penerus akan mengenang kalian bertiga. Sekarang juga kalian harus berangkat kearah barat sebelah utara gunung ciremai. Carilah oleh kalian pohon maja kalau sudah ditemukan kalian bertiga membuka dan membuat satu daerah kekuasaan disana.” Demikianlah sabda Syeh Nurjati.
Sesuai menerima tugas dari ayahandanya, seketika itu juga anak itu terus berangkat membawa dua orang masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya dengan jalan terbang melesat keatas langit. Namun, karena tidak mendapatkan ijin dari kakaknya Sri Ratu jatuh di Curungan (sekarang CiCurug). Selanjutnya kedua kakaknya menyusul guna mencari Sri Ratu. Mereka rupanya takut terjadi apa-apa yang akan menimpa adiknya. Kira-kira jam 10 pagi mereka tiba ditempat (Cicurug) Dalem Rangga bertanya kepada adikya Dalem Permana,”Bagaimana Permana, apakah ketemu adikku ?”

Dalem Permana pun menjawab,”langkah Kang (Tidak ada, Kak)!”
Dari dialog tersebut diambil satu kesimpulan bahwa kata “Majalengka” berasal dari pohon maja yang diketemukan didaerah Maja, dan langka diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih. Dari kedua kata tersebut mka lahirlah kata Majalengka, yang akhirnya berubah karena pelafaln lidah masyarakat Pasundan menjadi Majalengka.
Sekitar pukul 12 siang Sri Ratu Purbaningsih mengetahui dirinya tengah dicari oleh kedua kakaknya.”Nyai, disini, Kng!” Sri Ratu berteriak.
“Kamu tidak apa-apa Nyai?”Tanya Dalem Rangga.
Tidak, Kang! Sekarang kita bertiga membangun di sini saja, biarlah paman Pinamgeran Patih dan paman Parung Jaya memberekan pembangunan di Maja atas,” ujar Sri Ratu.
“Nyai Ratu jangan pulang dulu ke Cirebon,”Ujar Dalem Rangga. Sri Ratupun mengangguk memberikan isyarat tanda setuju kepada kakaknya bahwa ia tidak akan pergi ke Cirebon.
Tak terasa waktupunbergulir dengan cepat, sudah Sembilan bulan lamanya ketiganya anak Syeh Nurjati dan kedua pengawalnya inggal di Majalengka. Hari Rabu tanggal 17 Rajab tahun 1405 Masehi, Prosesi Majalengka tuntas, kemudian ketiga anak Syeh Nurjati bermusyawarah mengenal kepengurusan dan kedudukan jabatan agar Majalengka mempunyai status pemerintahan. Hasil dari musyawarah tersebut pada hari Selasa tanggal 3 Maulud tahun 1405 Masehi ditetapkan sebagai berikut :
Ratu Purbaningsih : Menduduki jabatan sebagai Mahkamah Agung
Dalem Permana : Menduduki jabatan sebagai Jaksa Agung
Dalem Rangga : Menduduki jabatan sebagai Bupati
Pinangeran Putih : Menduduki jabatan sebagai Wedana
Surawijaya : Menduduki jabatan sebagai Kepala Keamanan
Surya Nanggeuy : Menduduki jabatan sebagai Kepala Staf
Parung Jaya : Menduduki jabatan sebagai Staf
Sementara itu, Sembilan bulan lebih kepergian ketiga anaknya tidak ada kabar berita. Ini membuat Syeh Nurjati sebagai ayahanda di Cirebon merasa resah dan gelisah terus -menerus. Agar tak resah dan gelisah hati seorang ayah ketiga anaknya, Syeh Nurjati memberikan perintah kepada Pangeran Muhammad mencari dan menelusuri keberadaan ketiga anaknyayang sedang membuka daerah kekuasaan di arah Barat sebelah Selatan Gunug Ciremei itu.
Setelah menerima perintah dari Syeh Nurjati, Pangeran Muhammad langsung berangkat. Dalam waktu bersamaan pula Dalem Rangga pergi ke Cirebon untuk menemui ayahandanya guna melaporkan bahwa selama ini titah dan keinginan ayahandanya telah terpenuhi. Setibanya di Cirebon ayahandanya menjemput dan memeluk sambil berkata, “Rangga, ayah sangat resah dan gelisah kepada ketiga anak-anak ayah, tak terasa sudah Sembilan bulan lamanya tidak bertemu, takut terjadi apa-apa. Terpaksa ayah memerintahkan ajudan ayah (gandek-B. sunda) Pangeran Muhammad untuk mencari kalian. Apakah kamu tidak bertemu dengannya dijalan?”
“Tidak, ayah!” ujar Dalem Rangga. Rupanya, antara Pangeran Muhammad dan Dalem Rangga terjadi perselisihan jalan.
Lalu, Dalem Rangga menceritkan keberhasilan misi yang diembannya bersama kedua adiknya.
“Sekarang kita memberitahukan kepada gusti sinuhun kalu daerah itu sudah diketemukan, dan sudah diberi nama Majalengka,” ujar Syeh Nurjati setelah mendengar laporan itu.
Di lain pihak, Paneran Muhammad tiba di Majalengka tanggal 10 hari Selasa Wage tahun 1405 Masehi, dan tanggal 11 hari Rabu Kliwon tahun 1405 Masehi Pangeran Muhammad menghadap Nayi Ratu.
“Paman diutus oleh ayahanda Nyai Ratu bahwa Nyai Ratu harus segera pulang ke Cirebon,” ujar Pangeran Muhammad.
“Nyai tidak akan pulang paman. Paman juga tidak usah kembali lagi ke Cirebon, lebih baik mencari dan harus menemukan daerah (riwayat), tapi yang terlalu dekat dengan daerah Nyai, silahkan mencari ke arah Barat saja,”ucap Nyai Ratu.
Pangeran Muhammad pun mengangguk menuruti perintah Nyai Ratu.
Hari kamis tanggal 12 mulud tahun 1405 Masehi, Dalem Rangga kembali ke Majalengka dan mengundang kedua adiknya yang bermaksud untuk meresmikan daerah temuannyaitu. Peresmian itu akan dihadiri oleh ayah beserta ibunya.
Tanggal 15 hari Selasa kliwon tahun 1405 Masehi Syeh Nurjati dan Ratu Siti Maningrat tiba di Majalengka, saat itu kebetulan pula Ratu Siti Maningrat sedang hamil 9 bulan. Ketika diperjalanan perutnya terasa mulas mau melahirkan, belum tiba ditempat tujuan, Ratu Siti Maningrat melahirkan dijalan sambil bersandar dipohon jati. Selendang Ratu Siti Maningrat dikaitkan diranting besar. Ratu Siti Maningrat melahirkan seorang bayi laki-laki dinami Raden Sofyan Permana Hadikusumah, hingga peristiwa tersebut terkenal dengan nama jalan Jatisampay.
Syeh Nurjati dan Ratu Siti Maningrat berada di Majalengka satu minggu lamanya, dan kembali ke Cirebon sambil membawa bayi. Dalam usia tujuh tahun Raden Sofyan Permana Hadikusumah ditinggal wafat ibunya. Sejak usia tujuh tahun hingga empat puluh tahun Raden Sofyan Permana Hadikusumahikut dengan kakaknya, Nyai Ratu Purbaningsih.
Demikianlah sejarah singkat Majalengka. Kini Majalengka menjadi pemerintahan berbentuk kabupaten. Kabupaten Majalengka terletak disebelah Timur Provinsi Jawa Barat. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, dan sebelah Timur berdekatan dengan Kabupaten Cirebon.
Secara Geografis Kabupaten Majalengka di antara 180°-109° Bujur Barat dan 10°-7° Lintang Selatan, mempunyai dimensi terjauh antar Utara-Selatan berjarak kira-kira 52 km, Barat-Timur kira-kira 42 km. Luas Kabupaten Majalengka 120.424 Ha terdiri dari 23 kecamatan dan 327 desa/kelurahan. Desa-desa tersebut digolongkan ke dalam desa swasembada dan sebagian kecil digolongkan ke desa swakarya.
Kelak, Sejarah Majalengka erat kaitannya dengan cerita mistik Nyai Rambut Kasih, sebuah legenda masyarakat yang Selama ini menjadi sangat fenomenal.

Sabilulungan dalam bahasa sunda artinya gotong royong. Makna sabilulungan yaitu seiya sekata, seayun, selangkah, sepengertian, sepamahama...