Anu Resep Gambar Berjalan

Loading...

Senin, 06 Oktober 2008

Ngaran Menak Sunda

Ceuk cenah, di jaman baheula, anu berhak mengenyam pendidikan teh ngan ukur
kalangan menak.
tah lantaran kungsi ngarasaan sakola, tangtu pola pikirna berkembang, teu
heran lamun aya anu ngagedur sumangetna pikeun ngabebaskeun "rahayatna".

ngan terlepas tina eta, MENAK (dimeMENan dieNAK-enak) teu sakabehna boga
sumanget patriotismeu.

jeung anu leuwih parah, para katurunan menak ieu, anu teu kungsi ngalaman
jaman perjuangan kemerdekaan, tetep hirup dina "KAMENAKAN-nana".
anu tungtungna MEMENAKEUN.
tapi hirupna hanteu produktif.

tah nu kieu Produk GAGAL teh.
Raden-raden anu nyahona ngan nunjuk jeung marentah. Ngandelkeun titelna
sebagai RADEN, padahal batok sirahna kosong euweuh eusian.

Leuwih parah deui Raden-raden jaman ayeuna, Raden Korupsidiningrat, Raden
Kolusisuryaningrat, Raden Nepotismeumangkunegara, jeung raden-raden curang
sejena.

leuwih feodal, leuwih teu boga uteuk, leuwih penjajah tibatan penjajah
bangsa asing.

Cing ka anu boga keneh titel raden, terus batok sirahna aya eusian keneh, Do
Something !!!


On 5/11/07, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ieu aya resensi buku-buku biografi para Pahlawan Sunda nu dikarang ku
Dr.
NIna Lubis tina Gatra.Com. Nu narik didieu geuning Pahlawan Sunda teh
umumna ti kalangan menak nya? Naon sababna nya? .....asa patojaiyah jeung
anggapan yen menak teh produk feodalismeu ....

Nyanggakeun copy-pastena!

Biografi Pahlawan Sunda

DI Indonesia penulisan biografi tokoh baru berkembang pesat sejak tahun
1970-an. Meski penulisan biografi sudah ada sejak awal abad XX, namun
kuantitasnya masih rendah. Selain dari biografi juga terdapat memoar
(kenang-kenangan tokoh mengenai peristiwa tertentu) atau sumbangsih
tulisan terhadap seorang tokoh. Penulis biografi yang paling produktif
adalah Ramadhan K.H, yang umumnya memperlihatkan perjuangan dan
pengorbanan sang tokoh dalam menentang penjajah Belanda.

Nina Lubis (orang Sunda yang bersuami Batak) mengikuti jejak Ramadhan KH.
Ia telah menulis dan menyunting beberapa biografi tokoh Sunda. Sebelumnya
dalam karya akademis di UGM, Yogyakarta, ia menyusun tema serupa. Untuk
tesis S-2, Nina menulis Konflik Elite Birokrasi, Biografi Bupati R.A.A
Martanagara. Martanagara adalah menak (bangsawan) Sunda yang berasal dari
Sumedang dan menjadi Bupati Bandung awal abad XX. Sebagai disertasi (1997)
Nina Lubis menulis "Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942".

Pada tahun 2002 Nina menjadi editor buku Sang Pejuang dalam Gejolak
Sejarah, Otobiografi R Iwa Kusuma Sumantri. Iwa seorang menak Sunda asal
Ciamis yang pernah menjadi Menteri Pertahanan. Ialah yang mengusulkan agar
teks pernyataan yang diucapkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dinamai
"Proklamasi", sebelumnya Sukarno menyebutnya sebagai "Maklumat".

Oto, Sanusi dan Gatot
KETIGA tokoh yang dibicarakan di sini tergolong menak. Oto Iskandar di
Nata adalah pejuang kemerdekaan yang lahir di Bandung 31 Maret 1897. Ia
memimpin Pagoejoeban Pasoendan sejak tahun 1929 sampai 1942. Organisasi
ini bergerak dalam bidang pendidikan (mendirikan banyak sekolah), budaya,
ekonomi (Bank dan koperasi) dan hukum (lembaga bantuan hukum dan
rehabilitasi mantan narapidana). Tahun 1931 sampai 1941 ia anggota
Volksraad, yang menjadi embrio dari dewan perwakilan rakyat di kemudian
hari.

Tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Kemerdekaan Indonesia) dan duduk pada PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia). Oto Iskandar di Nata ikut merancang UUD 1945. Dalam sidang
PPKI tanggal 19 Agustus 1945, Oto mengusulkan agar Sukarno dipilih sebagai
Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden. Anggota sidang menyetujui usul
tersebut secara aklamasi.

Setelah Indonesia merdeka, Oto diangkat menjadi Menteri Negara yang
mengurus masalah keamanan. Dalam kedudukan itulah ia hilang pada akhir
tahun 1945. Bisa dikatakan Oto Iskandar di Nata adalah "orang hilang"
pertama dalam sejarah Republik Indonesia.

Baru 14 tahun kemudian (1959), terungkap bahwa ia dibunuh seorang polisi
bernama Mujitaba. Pembunuhan itu dilakukan di pantai Mauk,Tangerang. Sang
pelaku dihukum 15 tahun penjara. Namun di dalam pengadilan tidak terungkap
siapa yang menyuruh Mujitaba.

Prijana Abdurrasyid (kini Prof.Dr) yang menjadi jaksa dalam persidangan
itu meminta tambahan waktu sidang untuk mengungkap dalang dibalik
pembunuhan itu. Tapi usulannya tak terkabul, sehingga hanya pelaku
lapangan yang tertangkap dan dihukum, namun aktor intelektualnya tak
tersentuh.

Untuk menghormati jasa Oto, Pemerintah Jawa Barat membangun sebuah taman
makam pahlawan di Taman Pasir, Lembang. Pada batu nisan tertulis
Otoiskandardinata, lahir 31-3-1887, wafat 19-12-1945. Sebenarnya, tak ada
jasad Oto, tak ada jenasah Oto Iskandar di Nata di situ. Yang ada hanya
sejumput pasir dari pantai Mauk, terbungkus kain putih.

Sanusi Hardjadinata lahir di desa Cinta kabupaten Garut tahun 1914. Ia
terlahir dengan nama Samaun. Namun karena namanya sama dengan seorang
tokoh komunis, ia mengganti namanya dengan Sanusi. Semasa revolusi ia
menjadi Wakil Residen Priangan. Dalam kedudukannya ini aktif dalam
kegiatan PNI (Partai Nasional Indonesia). Juli 1951, Sanusi menjadi
Gubernur Jawa Barat. Ia dengan serius mempersiapkan KAA (Konferensi Asia
Afrika) di Bandung tahun 1955.

Pada 1957, Sanusi merintis pendirian Universitas Negeri Padjadjaran. Pada
tahun ini pula Sanusi masuk kabinet Juanda sebagai Menteri Dalam Negeri.
Pada masa selanjutnya ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Mesir tahun
1960-1964. Sepulang dari Kairo, ia diangkat pula menjadi Rektor Unpad.

Pada masa pemerintahan Soeharto, Sanusi dipercaya menjadi Menteri Utama
bidang Industri dan Pembangunan (1966) dan kemudian Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (1967). Setelah pensiun ia menjadi anggota DPA dan pernah pula
menjabat Ketua Umum PDI. Bulan Oktober 1980 ia mundur sebagai Ketua Umum
PDI lantaran friksi internal partai.

Berhenti dari pengurus partai, Sanusi tak melepaskan diri dari dunia
politik. Ia tetap kritis dengan menjadi penandatangan petisi 61 yang
dipepori oleh H.R. Dharsono tahun 1981. Tanggal 12 Desember 1995 ia wafat.

Gatot Mangkupraja (1898-1968) adalah tokoh yang dekat dengan Bung Karno.
Ketika PNI didirikan tahun 1927 Sukarno menjadi Ketua dan Gatot menjadi
sekretaris pembantu Soekarno. Pada 1929 hingga 1931, ia ditangkap dan
diadili bersama Bung Karno, di Bandung. Keluar dari penjara, Gatot membuka
toko obat dan menjalankan bisnis.

Pada jaman Jepang, Gatot tidak setuju dengan adanya milisi yang
dianggapnya malapetaka bagi rakyat. Namun ia menganjurkan berdirinya
barisan sukarela yang kemudian dikenal sebagai Peta (Pembela Tanah Air).
Bahkan surat permohonan pembentukan barisan itu dibuatnya dengan tinta
darah.

Tanggal 22 Oktober 1945 Gatot ditangkap tentara Sekutu ditahan di pulau
Onrust, Kepulauan Seribu. Baru tahun 1947 ia dibebaskan. Setelah itu ia
aktif dalam Gerakan Pembela Panca Sila dan tahun 1962 menjadi anggota
MPRS. Ia diberhentikan Soeharto sebagai anggota MPRS tahun 1966 karena
dianggap pendukung Bung Karno.

Dinamika hubungan Sunda-Jawa
Hubungan budaya dan manusia Sunda-Jawa yang "bermusuh dan berkawan" sudah
berlangsung sejak dahulu kala (longue dur±ý/I>). Ini cukup terpantul dalam
biografi elit Sunda. Oto beristrikan putri asal Jawa dan Sanusi adalah
keturunan Jawa Mataram. Surat terakhir yang dikirimkan oleh Oto kepada
istrinya ditulis dalam bahasa Sunda. Gatot sejak muda sudah menjadi
pengagum dan sekretaris Bung Karno.

Dari seratusan pahlawan nasional sekarang ini mayoritas berasal dari etnis
Jawa. Dari etnis Sunda sudah ada beberapa orang seperti Dewi Sartika.
Tokoh yang disebut di atas, Oto Iskandar di Nata, sudah diangkat sebagai
pahlawan, demikian pula dengan Iwa Kusuma Sumantri yang ditetapkan tahun
lalu. Sementara itu Gatot Mangkoepradja dan Sanusi Hardjadinata masih
dalam pengusulan.

Studi yang dilakukan Nina Lubis dapat membuka perspektif baru dalam usaha
lebih memahami karakteristik elit politik Indonesia khususnya elit Sunda.
Bahkan lebih dari itu, dengan dukungan teori dari Norbert Elias, Lucien
Febvre dan Marc Bloch misalnya kajian ini dapat diarahkan kepada riset
mendalam tentang mentalitas Sunda dalam perspektif longue durÒû

Dr Asvi Warman Adam
Sejarawan LIPI
[Buku, GATRA, Edisi 42 Beredar Jumat 29 Agustus 2003]

Tidak ada komentar: