Anu Resep Gambar Berjalan

Loading...

Selasa, 21 September 2010

Asal Usul Sekitar Daerah Majalengka

4. ASAL NAMA DESA PALASAH

Desa Palasah diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di pemukiman penduduk, nama pohon tersebut namanya pohon PALASAH, pohon tersebut banyak tumbuh di pemikiman masyarakat dan di hutan-hutan lindung yang berada di wilayah desa kami pada waktu dulunya.

Pohon Palasah tersebut sangat banyak sekali manfaatnya untuk kehidupan masyarakat desa kami pada waktu itu, daunnya disamping untuk sarana pembungkus makanan warga, warga juga menjual daun tersebut ke kota (kongsi) Kadipaten dan hasilnya untuk menambah-nambah kebutuhan dapur. Sedangkan pohonnya, masyarakat kami menggunakan pohon tersebut untuk tiang-tiang penyangga rumah dan untuk kayu bakar.
Mengingat banyak sekali tumbuh pohon tersebut dan manfaatnya sangat berarti bagi warga masyarakat maka para leluhur kami menamai desa kami dengan DESA PALASAH.
Agar supaya warga masyarakat kami bisa tumbuh subur guna kehidupan yang lebih maju baik sandang maupun pangan.

5. “ ASAL USUL DESA CIBENTAR “

Sekitar akhir abad ke-18, yaitu tepatnya tahun 1788 terbentuklah kampung bernama kampung BABAKAN.Kampung ini merupakan cantilan dari Desa SUKARAJA,Kampung Babakan pada waktu itu dipimpin oleh Raksa Perbanta.

Asal Kata Cibentar
Banyak yang menyebutkan bahwa Desa Cibentar berasal dari kata “Air/Cai” dan kata “Halilintar.Tetapi menurut kehendak Raksa Parbanta bahwa dalam pembuata saluran air itu hendaknya para tokoh/sesepuh dapat menggerahkan segala kesaktiannya,maka dengan segala penuh rasa tanggung jawab,para tokoh tersebut melaksanakannya dengan segala kemampuan & kesaktiannya masing-masing,seperti Embah Dati,dengan kesaktiannya,ia membuat keajaiban kencing di ujung untun memulai pembuatan saluran air yang direncanakan sehingga air kencingnya mengalir bulak-belok kea rah utara Embah Maranggi,dengan kesaktiannya ia bisa mendatangkan angin yang sangat kencana. Embah Modang,dengan kesaktiannya,ia dapat mendatangkan petir/geledek yang besar. Sedangkan Embah-embah yang lainnya,dengan kesaktiannya masing-masing dapat mengeluarkan tenaga yang cukup besar,sehingga mereka dapat membereskan pohon-pohon yang tumbang dan batu-batu yang berantakan guna terbentuknya saluran air.Pembuat saluran air tersebut sepanjang 300M yang dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu hari satu malam.

Karena pembuatan saluran air itu dapat diselesaikan dalam waktu yang sebentar dan air langsung mengalir,maka pada waktu itu, mereka mengambil dari kata Cai/Aia dan kata Sebentar.Dari kedua kata tersebut,akhirnya digabungkan menjadi nama sebuah Desa.Dari sejak tahun itu pula,Desa Cibentar berlaku sebagai suata desa dari Kec.Jatiwangi dan sejak itu kampung Babakan memisahkan diri dari Desa Sukaraja dan menjadi cantilan dari Desa Cibentar.

6. ASAL USUL MAJALENGKA

1. Pohon "Maja" Jadi "Lantaran"
Alkisah diceritakan kira - kira pada abad ke 15 Masehi berdirilah suatu kerajaan Hindu yang disebut SINDANGKASIH ( kini hanya sebuah desa yang terletak di sebelah tenggara ibu kota Majalengka jarak 3 Km di luar kota).
Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu yang cantik molek dan sangat sakti serta fanatik terhadap agama yang dipeluknya. Namanya ialah Ratu Nyi Rambutkasih. Berkat ratu yang bijaksana dan sakti itu, maka kerajaan Sindangkasih menjadi daerah yang aman dan makmur.

Rakyatnya hidup tentram damai dan aman sentosa, "rea ketan rea keton", karena begitu sejahtera dan bahagianya sehingga Sindangkasih mendapat gelar Sugih Mukti yang artinya "Kaya serta bahagia".

Penghidupan rakyatnya terdiri dari bercocok tanam, terutama padi sedang pakaiannya menenun sendiri dari hasil kapas tanamannya. Di lembah - lembah sungai ditanami tebu yang dibuat gula merah disamping gula dari pohon aren. Sebagian daerahnya terdiri dari hutan rimaba yang membujur ke arah utara dan selatan. Konon kabarnya dalam hutan itu bukan pohon kayu jati yang banyak, tetapi penuh dengan pohon maja. Batangnya lurus dan tinggi, tetapi daunnya kecil dan pahit dan mempunyai khasiat untuk mengobati penyakit demam. Buahnya mirip buah "Kawista", tetapi kulitnya agak lunak, isinya serasa ubi jalar yang dibakar.

Sementara itu antara 1552 - 1570 Cirebon telah diperintah oleh seorang Guru Besar Islam yaitu seorang wali bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Konon Cirebon pernah terserang penyakit demam yang sangat hebat dan menimbulkan banyak korban. Lalu Sunan Gunung Jati mengutus putranya yang bernama Pangeran Muhammad untuk pergi mencari pohon maja ke daerah Sindangkasih sekaligus menyebarkan agama Islam.

Pangeran Muhammad berangkat menuju Sindangkasih disertai isterinya yang bernama Siti Armilah yang berasal dari Demak yang juga diberi tugas untuk membantu suaminya dan ikut menyebarkan agama Islam.

Nyi Rambutkasih sebagai ratu Sindangkasih yang telah mengetahui kedatangan utusan Sunan Gunung Jati itu, hatinya tidak ikhlas daerahnya diinjak oleh orang lain yang memeluk agama Islam. Konon kabarnya sebelum Pangeran Muhammad bertemu dengan nyi Rambutkasih, hutan Sindangkasih yang awalnya banyak pohon maja telah diubah menjadi hutan lebat tanpa pohon maja sebatangpun.

Pangeran Muhammad dan isterinya sangat kecewa dan terkejut ketika tiba di Sindangkasih, pohon maja yang diperlukannya sudah tidak ada. Maka, pada saat itu Pangeran Muhammad berkata "Maja Langka" (bahasa Jawa) artinya "Maja tidak ada".
Dengan demikian, Pangeran Muhammad sangat kecewa dan berniat akan kembali ke Cirebon. Akhirnya Pangeran Muhammad memutuskan pergi bertapa di kaki gunung hingga wafatnya. Gunung itu kini bernama "Margatapa".

Sebelum pergi bertapa, Pangeran Muhammad memberi amanat kepada isterinya, untuk terus berusaha menemukan pohon maja itu dan menaklukan Nyi Rambutkasih agar memeluk agama Islam.

Pada suatu hari, Siti Armilah yang merupakan pemeluk dan penyebar agama Islam bisa bertemu dengan Nyi Rambutkasih yang merupakan pemeluk dan Fanatik terhadap agama Hindu.

Nyi Rambutkasih tidak dapat menerima ajakan dan ajaran yang diberikan Siti Armilah supaya Nyi Rambutkasih memeluk agama Islam. Siti Armilah pun berkata : "Manusia itu pasti mati, kembali ke alam baqa, hidup di dunia ini ada batasnya".
Nyi Rambutkasih membalasnya dengan ucapan: "Aku seorang Ratu pelindung rakyat yang berlaku jujur dan baik, sebaliknya aku adalah Ratu yang tidak pernah ragu - ragu untuk menghukum rakyatnya yang bertindak curang dan buruk. Karena itu aku tidak akan mati dan tidak mau mati".

Siti Armilah menjawab: "Jika demikian halnya, makhluk apakah gerangan namanya yang tidak akan mati dan tidak mau mati?".
Bersamaan dengan ucapan Siti Armilah tersebut, lenyaplah diri Nyi Rambutkasih itu dari dunia yang fana ini tanpa meninggalkan bekas.
Orang jaman sekarang hanya bisa mendapatkan beberapa peninggalan bekas Nyi Rambutkasih semasa memerintah dahulu.

Selanjutnya Siti Armilah menetap di kerajaan Sindangkasih ini dan menyebarkan agama Islam sampai wafat. Jenazahnya dimakamkan di pinggir kali Citangkurak, yang tumbuh pohon "BADORI" sesuai dengan amanatnya, bahwa telah ditegaskan, bahwa dikemudian hari dekat kuburannya akan menjadi tempat tinggal penguasa pemerintah Majalengka.
Kini makam Siti Armilah terletak di belakang gedung Kabupaten Majalengka yang sekarang dan orang sering menamakan Emah Gedeng Badori.
Setelah peristiwa menghilangnya Nyi Rambutkasih, maka banyak penebar agama Islam dari daerah Cirebon dan Mataram datang ke daerah kerajaan Sindangkasih yang telah berganti nama menjadi Majalengka itu.

Cerita menghilangnya Nyi Rambutkasih menjadi legenda bagi rakyat aseli Majalengka, dan terhadap kesaktiannya merupakan suatu mitos yang masih melekat dengan kuat.
Hal ini diakibatkan karena seringnya ada orang yang bertemu dengan seseoran berwujud wanita yang tidak tahu berasal dari mana asalnya dan menamakan dirinya sebagai Nyi Rambutkasih, sehingga orang yang bertemua dengannya menjadi gila. Menurut kepercayaannya karena diganggu oleh roh Nyi Rambutkasih.

Dibalik peristiwa itu semua, rakyat Majalengka mempunyai kepercayaan bahwa Nyi Rambutkasih akan menjaga Majalengka bila rakyat Majalengka tetap berlaku baik dan jujur. Namun apabila tidak, Nyi Rambutkasih akan murka dan akan menimbulkan malapetaka. Wallohualam bisawab.

2. Ingat Akan Asal Permulaan Pencegah Perang Saudara
Menurut ceritera, pada waktu Kerajaan Galuh masih menganut agama Budha, katanya putera Raja yang tertua telah masuk Islam dan menjadi murid Sunan Gunung Jati di Cirebon. Menurut Riwayat ia bernama Sunan Undung dan disuruh menyebarkan agama Islam di sebelah barat daya.

Di antara tugas itu adalah mengajak adiknya di kerajaan Galuh yang masih beragama Budha.

Kedua saudara kandung yang berbeda agama pun bertemu di suatu tempat di hutan Sindangkasih yang kini disebut GIRILAWUNGAN yang artinya tempat bertemu.
Masing - masing putra Galuh itu mempertahankan keyakinannya sehingga pertarungan yang merupakan perang saudara bisa terjadi kapan saja.Ketika mereka sedang bertengkar,mereka ingat pada "PURWADAKSINA", yaitu ingat kepada asal, bahwa mereka berdua adalah saudara yang berasal dari satu keturunan, sama - sama putera raja Galuh. Setelah mereka ingat hal itu, mereka menjadi damai kembali. Mereka sadar tak ada manfaatnya mempertengkarkan agama.

Sambil berpisah mereka mengeluarkan kata - kata madia lengka yang artinya di tengah - tengah eling kepada asal permulaan.
Demikian "MADIA-LENGKA" berubah menjadi Majalengka. Wallohualam.

3. "Langkah" Siti Armilah
Ketika Pangeran Muhammad beserta isterinya melaksanakan amanat Sunan Gunung Jati untuk mencari pohon maja di Sindangkasih dan mengajak Nyi Rambutkasih memeluk Islam, maka ada sebagian orang yang menceritakan asal mula Majalengka berlainan.
Pangeran Muhammad dan Siti Armilah telah sampai di daerah hutan Sindangkasih yang penuh dengan pohon maja. Tempat mereka pertama kali menemukan pohon maja dinamai Maja yang sekarang menjadi kecamatan Maja. Lalu Siti Armilah mendapat amanat dari suaminya untuk mengajak Nyi Rambutkasih untuk memeluk agama Islam.
Untuk memudahkan perjalanan dengan menempuh hutan Siti Armilah diberi seekor ayam beranama si Jalak Harupat oleh suaminya. Kemana ayam jantan itu pergi, harus diikuti jejaknya hingga ia berkokok.

Kokok ayam tadi itu akan menandakan bahwa tempat yang dituju telah tercapai. Lalu si Jalak Harupat dilepaskan dan jejaknya diikuti dengan langkah - langkah Siti Armilah. Akhirnya si Jalak Harupat berkokok di suatu tempat yang dituju yaitu tempat yang sekarang menjadi kota Majalengka.

Pada saat itu Siti Armilah memberi nama tempat itu bukan Sindangkasih melainkan "Maja alengka" sebagai peringatan baginya yang mula - mula dari maja melangkahkan kakinya sampai di tempat yang dituju. Wallohualam.

4. Antara Ada Dan Tiada
Ada pula ceritera yang meriwayatkan terjadinya Majalengka itu berbeda lagi. Pengaruh kekuasaan Sultan Agung Mataram ternyata meluas ke arah Barat, maksudnya pulau Jawa sebelah barat.Dikisahkan ada seseorang yang bernama Sunan Jebug yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan Mataram dan ia tetap mempertahankan daerahnya (sekarang Majalengka) bebas dari penguasaan Sultan Agung Mataram yang mengakibatkan marah Sultan. Lalu Sulatan mengirimkan 40 orang hulubalang untuk merebut daerah Sunan Jebug. Melihat gelagat tidak enak itu, Sunan Jebug dengan senopatinya yang bernama Endang Capang untuk menghindari pertempuran dan pertumpahan darah.
Sebelum 40 hulubalang datang dari Mataram tiba di daerahnya, maka Sunan Jebug dan Endang Capang bersembunyi dan hanya meninggalkan petilasan saja. Ketika pasukan Hulubalang Mataram tiba,tak ada seorangpun yang dapat menemukan Sunan Jebug dan Senopati Endang Capang. Akhirnya seorang hulubalang bernama Mangkunegara, berseru: "Madia Langka". Antara ada dan Tiada. Dikatakan tiada karena memang tidak ditemukan, dikatakan ada karena ada petilasannya. Demikianlah dari Madia Langka berubah menjadi Majalengka

5. Negara "Tengah"
Rakyat Pulau Jawa umumnya mengetahui bahwa dahulu kala orang menyebut "Buana Panca Tengah" yang dimaksudkan ialah Indonesia sekarang khususnya Pulau Jawa. Dihubungkanya dengan ceritera Ramayana dan kerajaan Alengka yang diartikan negara. Adapun Maja diartikan Madia bukan nama pohon tetapi tengah. Kata "tengah" ditinjau dari segi - segi:
a. Ilmu Bumi : Letak daerah Majalengka ini berada di tengah - tengah antara pegunungan dan pedaratan.
b. Pemerintahan : Terletak di tengah - tengah kekuasaan Islam (Cirebon/Mataram) dan Hindu/Budha (Galuh-Pajajaran)
c. Ilmu bangsa : Rakyat daerah ini berada di tengah - tengah suku Jawa dan suku Sunda.
d. Kebudayaan : Kebudayaannya sebagian pengaruh kebudayaan Jawa, lainnya kebudayaan Sunda.
Demikian juga dalam segala hal selalu barada di pertengahan tidak pernah menonjol dan tidak pula terbelakang.

Tidak ada komentar: