Anu Resep Gambar Berjalan

Loading...

Selasa, 21 September 2010

Ki Saleh Dansasmita

Mencari Ahli Waris Pantun Bogor
>
> Dalam buku sejarah atau cerita rakyat tidak banyak yang mengisahkan
> secara detail tentang saat-saat terakhir kerajaan Pajajaran ketika
> digempur oleh pasukan gabungan dari Demak, Banten, dan Cirebon tahun
> 1526 M. Sebagian besar dongeng rakyat Pasundan tentang masa-masa itu
> selalu ditutup dengan kisah menghilangnya Prabu Siliwangi ke alam gaib
> dan mengubah pengikutnya menjadi manusia harimau. Sedangkan dalam
> Pantun Bogor terasa lebih masuk akal.
>
> Dikisahkan saat pasukan Pajajaran semakin terdesak mempertahankan
> keraton di Bogor, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi membagi keluarganya
> menjadi tiga kelompok untuk menyelamatkan diri. Sang Prabu beserta
> rombongannya menuju pesisir Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Di tempat
> tersebut rombongan membuat perahu untuk menyeberang ke Pulau
> Nusalarang (sekarang Pulau Christmas). Namun, ketika perahu selesai
> dibuat dan digunakan menyeberang, badai ombak besar mirip tsunami
> menerjangnya hingga perahu pun hancur berantakan.
>
> Sang Prabu akhirnya pasrah, kemudian ia membebaskan pengikutnya untuk
> pergi ke mana pun menyelamatkan diri, ia sendiri memilih moksa. Di
> tempat lain putri bungsu Prabu Siliwangi Dewi Purnamasari memilih
> menyelamatkan diri ke wilayah Palabuhanratu. Sang Putri bersama
> pengawalnya kemudian membentuk perkampungan yang lambat laun
> berkembang menjadi pemerintahan kecil bernama Pelabuhan Nyai Ratu.
>
> Pemerintahan dilanjutkan oleh putri semata wayangnya Dewi Mayang
> Sagara yang pada tahun 1555 M mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan
> Pakuan Pajajaran Mandiri. ,Namun kerajaan ini kemudian digempur hingga
> tak bersisa oleh pasukan Kesultanan Mataram yang kala itu mulai
> berkuasa di tanah Sunda. Sedangkan Putra Mahkota Pajajaran, Prabu Anom
> Kean Santang menyelamatkan diri ke daerah sekitar Gunung Halimun
> Sukabumi, menyamarkan diri sebagai Batara Cikal dan kemudian menjadi
> nenek moyang masyarakat adat Banten Pancer Pangawinan.
>
> Dalam Pantun Bogor juga terdapat Uga (ramalan masa depan), malah
> kendati Pantun ini disusun pada abad ke-18 M, sudah bisa melukiskan
> ciri-ciri beberapa Presiden RI di antaranya seperti sosok Bung Karno
> disebutkan sebagai Raja make makuta buludru, unggah hulu banteng (Raja
> mengenakan mahkota beludru/peci menaiki kepala banteng, lambang Partai
> Marhaen). Presiden K.H. Abdurachman Wahid digambarkan sebagai ”Raja
> Lolong Unggah Karaton” (Raja Bermata Buta Bertahta di keraton). Pantun
> Bogor ditulis sekitar tiga ratus tahun lalu oleh seorang pujangga
> misterius yang memiliki nama samaran Aki Uyut Baju Rambeng hidup di
> sekitar Jasinga Bogor.
>
> Naskah tersebut kemudian diwariskan kepada Rd. Wanda Sumardja seorang
> Demang masa penjajahan Belanda. Naskah-naskah kemudian diwariskan lagi
> kepada Raden Mochtar Kala asal Bogor yang kemudian lebih dikenal
> dengan nama Rakean Minda Kalangan (RMK) sesepuh Bogor yang meninggal
> tahun 1983 lalu dalam usia 79 tahun. Semasa hidupnya, RMK kerap
> dijadikan narasumber oleh berbagai pihak tentang budaya Sunda. Namun,
> dari sekian banyak yang belajar kepadanya, hanya dua orang yang
> terpilih untuk mewarisi Pantun Bogor yakni sejarawan Drs. Saleh
> Danasasmita dan Anis Djatisunda. Kini tinggal Anis Djatisunda (71)
> yang masih hidup, tokoh berdarah Sunda dari ibu dan Sangihe Talaud
> Sulawesi Utara dari ayahnya ini dikenal sebagai sesepuh budayawan
> Sunda dan kerap diminta pendapatnya oleh berbagai pihak.
>
> Anis menjelaskan bahwa Pantun Bogor diwariskan dengan budaya tutur, ia
> dan almarhum Saleh Danasasmita dilarang keras mencatat saat menerima
> Pantun Bogor episode per episode. Beberapa episode Pantun Bogor di
> antaranya berjudul Kalang Sunda Makalangan, Pakujajar Beukah Kembang,
> Pakujajar di Lawanggintung, Kujang di Hanjuang Siang, Dadap Malam
> Cimandiri, Pajajaran Seren Papak, Curug Sipadaweruh, Tunggul Kawung
> Bijil Sirung, Lawang Saketeng ka Lebak Cawene, dan Ronggeng Tujuh
> Kalasirna.
>
> Pantun Bogor dibagi menjadi dua bagian yakni Pantun Bogor Leutik dan
> Pantun Bogor Gede. Pantun Bogor Leutik berkisah sekitar kehidupan
> sehari-hari masyarakat Kerajaan Pajajaran atau tentang para putri raja
> dan kesatria. Sedangkan Pantun Gede berkisah tentang ajaran agama
> Sunda, silsilah Raja Sunda, Uga, dan pola pemerintahan Kerajaan Sunda.
> Pada masa lalu Pantun Bogor disampaiakan oleh juru pantun sambil
> diiringi petikan kecapi lisung senar tujuh khas Pajajaran yang kini
> sudah punah.
>
> Anis menegaskan bahwa Pantun Bogor yang ia jelaskan kepada khalayak
> umum dewasa ini hanya diambil dari naskah Pantun Leutik, sedangkan
> ungkapan Pantun Gede dengan teks aslinya masih dirahasiakan karena
> sifatnya yang sakral. Bagian ini hanya akan diberikan kelak kepada
> ahli waris Pantun Bogor, yang hingga kini belum ia temukan.
>
> Anis berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin menemukan pewarisnya
> yang benar-benar mencintai Kasundaan, yang berkepribadian ”Nyunda,
> Nyiliwangi, dan Majajaran” dan memiliki jiwa yang Saharigu, Sasusu,
> Sahate jeung Sarancage (Sehidup dan Semati) dengan Kasundaan. Bila
> tidak juga menemukan sosok yang sesuai, Pantun Bogor terpaksa akan ia
> bakar, hal itu sesuai pesan mendiang Rakean Minda Kalangan. Akan
> tetapi mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, sebab bila kemudian harus
> sirna karena dibakar tentu sangat disayangkan, pasalnya kedudukan
> pantun ini bagi sebagian sejarawan dan budayawan memiliki nilai tinggi
> dalam perjalanan sejarah sastra dan budaya Sunda. (Luki Muharam,
> pegiat Lembaga Kebudayaan Cianjur) ***

Tidak ada komentar: