Anu Resep Gambar Berjalan

Loading...

Selasa, 07 Oktober 2008

Perjalanan Komunitas Tionghoa di Tatar Sunda

Sejak kapan orang China datang ke Tatar Sunda? Hingga sekarang belum ada sumber sejarah pasti yang menyebutkan titimangsa kedatangan orang China ke Nusantara, termasuk Tatar Sunda, atau wilayah yang sekarang meliputi Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah.

Namun, adanya temuan keramik China dari masa Dinasti Han (225 SM-150 M) oleh Orsoy de Flines di Banten pada tahun 1936 menjadi salah satu bukti bahwa orang-orang China diduga kuat sudah datang ke Tatar Sunda pada abad pertama Masehi. Sebuah berita China memastikan bahwa pada tahun 414 seorang biksu China bernama Fa-Hsien dalam perjalanan pulang dari ziarah di India terdampar di pantai utara Pulau Jawa karena perahunya diterjang badai.

Kontak lebih intensif terjadi pada abad-abad selanjutnya sebagaimana diberitakan sumber dari Dinasti Soui, yang antara lain menyebutkan, pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Sementara itu, sumber dari masa Dinasti Tang juga menyebutkan, tahun 666 dan 669 datang utusan dari To-lo-mo.

Rupanya To-lo-mo adalah lafal China untuk Taruma (Kerajaan Tarumanegara). Jelas bahwa Kerajaan Tarumanegara sudah mengadakan hubungan diplomatik dengan kerajaan di Tiongkok.

Berdasarkan bukti arkeologis, Kerajaan Tarumanegara eksis di Tatar Sunda sejak awal abad ke-5 hingga abad ke-7 Masehi. Kunjungan diplomatik dari Tatar Sunda ke Tiongkok secara implisit menunjukkan bahwa perkenalan orang China dengan Tatar Sunda sudah semakin akrab. Secara lebih jelas sumber masa Dinasti Sung II (960-1279 M) menyebutkan adanya hubungan dagang dan diplomatik antara China dan Jawa.

Dalam perkembangan selanjutnya diketahui bahwa di kota-kota pelabuhan, seperti Tuban dan Gresik, para pedagang China ini membentuk komunitas baru, bahkan melakukan perkawinan dengan wanita pribumi. Tidak mengherankan pula bila ada elite politik pribumi dari Kerajaan Majapahit yang menikahi wanita China.

Beberapa penguasa dan wali penyebar agama Islam di Jawa dipercaya sebagai keturunan China. Misalnya, pendiri Kerajaan Demak, Raden Patah, dikenal dengan sebutan Jinbun. Sunan Ampel dan Sunan Bonang konon berdarah China. Adapun para bupati di kota-kota perdagangan muara sungai, seperti Pekalongan, Batang, Tegal, Tuban, Lasem, Sidayu, dan Pasuruan, memiliki hubungan keturunan dengan China. Bahkan banyak syahbandarnya berasal dari kalangan mereka.

Salah seorang istri Sunan Gunung Jati, penyebar agama Islam di Jawa Barat, adalah wanita China bernama Putri Ong Tien. Perdagangan antara Kerajaan Sunda dan China juga diberitakan dalam Suma Oriental yang ditulis Tome Pires (1513-1515). Sumber ini menyebutkan, mata uang Tiongkok berlaku di pelabuhan Kerajaan Sunda, antara lain di Banten dan (Sunda) Kalapa. Pembantaian VOC

Tahun 1602, dalam mengelola perdagangannya VOC membutuhkan pedagang China sebagai penyedia komoditas dagang. VOC berusaha menarik pedagang China dari Banten ke Batavia. Namun, ketika Batavia mengalami kelesuan dagang pada 1632-1648, banyak orang China meninggalkan kota itu dan kembali ke Banten atau Mataram.

Untuk menarik simpati agar mereka mau kembali ke Batavia, pada Agustus 1648 VOC menghapuskan kewajiban membayar pajak kepala bagi orang China. Maka, berbondong-bondong orang China kembali ke Batavia.

Pada tahun 1739, jumlah penduduk yang berdiam di dalam Kota Batavia hampir 30.000 jiwa, dan di daerah pinggirannya tidak kurang dari 50.000 jiwa. Jumlah orang China sekitar 15.000 orang atau 17 persen dari total penduduk.

Dalam perkembangannya, VOC mengalami kemunduran perdagangan dan defisit keuangan. Di tengah situasi yang tidak menguntungkan itu imigran China terus mengalir. Mereka yang tidak tertampung di kota membanjiri kawasan di sekitar Batavia. Banyak yang tidak mendapatkan pekerjaan terpaksa bergabung dengan gerombolan penjahat. Kesempatan itu oleh pejabat VOC digunakan sebagai alasan mengeluarkan surat izin bermukim (permissiebriefjes) bagi orang-orang China.

Dalam pelaksanaannya timbul berbagai penyimpangan, pemerasan, dan korupsi yang menimbulkan kegelisahan pada masyarakat China di Batavia dan sekitarnya. Keresahan meluas ketika VOC melakukan emigrasi paksa bagi orang-orang China yang tidak memiliki pekerjaan dan surat izin tinggal ke Ceylon atau Tanjung Pengharapan Baik di Afrika Selatan. Ribuan orang China ditangkap. Ada desas-desus bahwa orang-orang China yang diangkut dengan kapal VOC dari Batavia dilempar ke laut. Hal ini membuat orang China di Batavia dan sekitarnya geger.

Akhir September 1740, terjadi bentrokan yang menewaskan 50 tentara VOC. VOC melakukan balasan dan pembersihan. Pada 9-13 Oktober 1740 terjadi kerusuhan yang mengorbankan sekitar 10.000 orang China. VOC semakin ketat terhadap orang-orang China. Berdasarkan Wijkenstelsel Tahun 1854, orang China diharuskan tinggal di perkampungan khusus yang disebut pecinan.

Mereka dikenakan passenstelsel, yaitu jika akan keluar dari kawasan itu harus memiliki pas jalan. Banyak orang China dari sekitar Batavia masuk ke pedalaman, yaitu daerah Priangan.

Sejak tahun 1872, Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin bagi orang-orang China untuk tinggal di wilayah Priangan. Sejak saat itu perkampungan pecinan dapat dijumpai di berbagai kota/kabupaten di Karesidenan Priangan, seperti Cianjur, Bandung, Sumedang, Sukapura (nantinya disebut Tasikmalaya), Limbangan, dan Galuh (kini disebut Ciamis). Mata pencarian mereka umumnya berdagang. Orang China di Priangan umumnya bisa berbahasa Sunda.

Pemerintah Hindia Belanda juga mengangkat seorang wijkmeester yang mengurus administrasi komunitas China. Segregasi ini bukan hanya untuk yang hidup, yang meninggal pun dikubur di pemakaman khusus untuk orang China. Di Bandung ada Kompleks Cikadut, sedangkan di Garut ada Gugunungan, Desa Margawati. Kampung Pecinan

Berdasarkan Regerings Reglement (Peraturan Pemerintahan) 1854, dalam stratifikasi sosial masyarakat kolonial, orang Eropa menempati strata paling atas. Di bawahnya ada golongan Timur Asing (China, Arab, dan India), dan paling bawah masyarakat pribumi. Jadi, jelas orang-orang China menempati strata lebih tinggi daripada pribumi.

Ini kelak menjadi salah satu penyebab orang China "berbeda". Apalagi, mereka tinggal di kompleks terpisah, yaitu pecinan, yang biasanya berada di dekat pasar. Di Bandung, pecinan terletak di dekat Pasar Baru, sementara di Garut ada di daerah Ciwalen.

Dalam perekonomian Jawa Barat, orang-orang China menempati kedudukan sebagai pedagang perantara pribumi dengan Eropa. Para pedagang China tidak hanya diam di kota, tetapi juga berkeliling ke desa-desa menjual barang dengan cara kredit. Kadang mereka juga meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi. Mereka dikenal dengan nama "China Mindring".

Banyak menak di Priangan yang terjebak utang kepada orang-orang China yang menawarkan barang-barang mahal seperti perhiasan. Gaya hidup kaum menak yang konsumtif menjadi sasaran empuk "China Mindring".

Pada awal kemerdekaan, orang-orang China yang ikut berjuang masuk ke dalam pemerintahan. Beberapa menjadi menteri dalam Kabinet Republik Indonesia I. Mereka bebas menjadi pegawai negeri dan tentara. Pada perkembangannya, pembatasan juga dilakukan dalam ekspresi kebudayaan.

Namun, pada masa reformasi, peranan orang China lebih terakomodasi. Ekspresi budaya China tidak lagi dihalangi. Pertunjukan barongsai kini marak di mana-mana. Hari raya Imlek pun disambut sebagaimana hari besar agama lainnya. Ucapan "Gong Xi Fa Cai" berkibar di mana-mana. Tidak perlu ada lagi dikotomi antara bangsa Indonesia pituin dan bangsa Indonesia mukimin.(sumber : www.kompas.co.id)

Tidak ada komentar: